TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

Jumat, 27 Juli 2012

0

Sewa Kandang atau Bangun Kandang?


Sewa Kandang atau Bangun Kandang?

 Sewa Kandang atau Bangun Kandang?
Tidak diragukan lagi bahwa modal untuk membangun/membuat unit kandang adalah tidak sedikit. Apalah kandang yang dibangun itu kandang untuk ternak ayam petelur, ayam pedaging, itik petelur, itik pedaging, puyuh, sapi pedaging, sapi perah dan lain sebagainya. Memang, kandang memegang peranan penting dalam menunjang produktifitas ternak yang bersangkutan. Akan tetapi kita tidak boleh berlebihan dalam mengeluarkan modal untuk keperluan kandang. Mungkin kita pernah mendengar ada calon peternak yang kehabisan modal ditengah jalan akibat membangun kandang yang berlebihan, sedangkan untuk keperluan lainnya seperti bibit, pakan dan sarana lainnya belum terbeli. Ada juga cerita, sudah membangun kandang permanen untuk ternak sapi, ternyata di tengah jalan bisnis ini lesu sehingga kandang menjadi nganggur karena mau dipakai untuk ternak lainnya juga tidak cocok. Tentu hal ini sangat tidak kita harapkan. Anda juga jangan takabur alias sombong meskipun anda berkantong tebal, bisa jadi salah satu faktor tidak berkembangnya usaha kita dikarenakan faktor kandang ini juga.
Mengapa faktor kandang bisa menyebabkan usaha kita tidak atau kurang berkembang? Karena modal yang kita punya hanya terfokus bahkan habis di pembuatan kandang sedangkan modal atau alokasi modal untuk pengembangan sumber daya manusia, diversifikasi usaha atau melengkapi sarana dan prasarana lainnya tidak jalan. Di samping itu juga kandang juga akan mengalami penyusutan sehingga nilainya akan semakin turun. Untuk itulah kami akan sedikit memberi gambaran kepada kita semua antara sisi positif menyewa kandang dengan membangun kandang sendiri. Semoga yang sedikit kami tulis nantinya memberi manfaat kepada kita semua. aamiin
Sewa kandang
Menyewa kandang adalah pilihan bijak bagi pemula, apalagi skala usaha masih tergolong kecil. Sewa kandang biasanya umum diterapkan pada usaha peternakan ayam pedaging (broiler). Sewa kandang ada yang model per periode pemeliharaan, ada yang per tengah tahun (6 bulanan) dan ada juga yang tahunan. Keuntungan kalau kita menyewa kandang adalah kita tidak perlu memikirkan investasi bangunan kandang serta sarana dan prasarananya karena biasanya pihak yang menyewakan kandang sudah membuat system sewa satu paket yaitu bangunan kandang (gudang, tempat istirahat pekerja kandang), tempat pakan, tempat minum, sumber air, dan lain sebagainya.  Keuntungan lain dalam menyewa kandang adalah kalau misalkan sampai terjadi bencana alam (banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin topan dan lain sebagainya) kita tidak menanggung kerugian bangunan kandang yang rusak. Jadi bisa di bilang sewa kandang adalah sangat praktis, tinggal bayar sejumlah harga sewa sesuai kesepakatan sudah tinggal menempati dan resiko kecil.
Mungkin ada yang bertanya, apa ada kandang disewakan? Kayak seperti kos-kosan mahasiswa atau kontrakan pada umumnya saja. Memang sewa kandang tidak familiar seperti sewa rumah, sewa kendaraan atau sewa barang lainnya. Sewa-menyewa kandang adalah salah satu peluang usaha yang jarang mendapat perhatian orang. Padahal kalau kita lirik tidak mustahil akan menjadi bisnis yang luar biasa. Apalagi kalau kita mempunyai tanah ‘nganggur’ yang bisa dibilang tanah tidak produktif, akan tetapi disekitar kita prospek usaha ternak cukup menjanjikan. Biaya sewa kandang selama satu kali periode (2 bulan) untuk ayam broiler sekitar Rp 300-350/ekor. Jadi kalau kita mempunyai kandang berkapasitas 20.000 ekor maka biaya sewa untuk sekali periode berkisar sekitar 6-7 juta. Kalau dalam satu tahun ada 6 kali sewa berarti pendapatan siempunya kandang sudah sekitar 36-42 juta.
Bangun kandang
Keputusan untuk membangun unit kandang bisa dikatakan tepat apabila usaha yang kita jalankan sudah besar dan mapan. Membangun kandang bisa bilang kita menanam investasi untuk jangka panjang ke depan. Kalau kita membangun kandang upayakan bangunan kandang tidak harus permanen, artinya kalau sekiranya bangunan kandang itu dibongkar maka bahan-bahan yang dipakai untuk kandang masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Kami jadi teringat akan penjelasan salah satu dosen kami ketika menjelaskan pembuatan kandang sapi, bahwa alas kandang tidak perlu di cor, pakai saja paving bongkar pasang, sehingga nanti ketika usaha sudah selesai/bangkrut maka paving-paving tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lain atau bahkan dijual kembali. Dan tentu masih banyak contoh bahan kandang lain yang semisal. Program kita untuk membangun kandang sendiri tidak semua nya salah, yang terpenting adalah kita punya perhitungan yang terencana.
Sehingga menurut hemat kami, kesimpulan mengenai keputusan menyewa kandang atau membangun sendiri unit kandang adalah sebagai berikut : untuk memulai usaha sebaiknya adalah dengan menyewa kandang  terlebih dahulu sambil melihat-lihat perkembangan usaha. Kemudian kalau kita sudah yakin bahwa usaha yang sedang kita jalankan ini bisa untuk dikembangkan dan memiliki prospek yang cerah ke depannya maka dilakukan pembuatan kandang sendiri untuk investasi jangka panjang. Semoga bermanfaat.*(SPt)
Anda dapat mencopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com
0

beternak ayam kampung pedaging.

ayam-kampuang
Di waktu yang singkat ini perkenankan kami untuk ikut melengkapi artikel atau pengetahuan tentang cara beternak ayam kampung pedaging. Banyak sudah artikel dan makalah yang ditulis oleh pakar dan ahli dibidangnya dalam masalah ini akan tetapi mengingat animo masyarakat untuk mengetahui cara beternak yang baik dan praktis maka kami juga meluangkan waktu untuk dapat menuliskannya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.. ^_^
Mengubah sistem beternak ayam kampung dari sistem ekstensif ke sistem semi intensif atau intensif memang tidak mudah, apalagi cara beternak sistem tradisional (ekstensif) sudah mendarah daging di masyarakat kita. Akan tetapi kalau dilihat nilai kemanfaatan dan hasil yang dicapai tentu akan menjadi faktor pendorong tersendiri untuk mencoba beternak dengan sistem intensif. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam usaha beternak ayam kampung, maka perlu kiranya memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Bibit
Bibit mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha peternakan. Bibit ayam kampung (DOC) dapat diperoleh dengan cara : membeli DOC ayam kampung langsung dari pembibit, membeli telur tetas dan menetaskannya sendiri, atau membeli indukan untuk menghasilkan telur tetas kemudian ditetaskan sendiri baik secara alami atau dengan bantuan mesin penetas. Kami tidak akan menguraikan sisi negatif dan positif cara mendapatkan DOC ayam kampung karena akan memerlukan halaman yang panjang nantinya. Secara singkat DOC ayam kampung yang sehat dan baik mempunyai kriteria sebagai berikut : dapat berdiri tegap, sehat dan tidak cacat, mata bersinar, pusar terserap sempurna, bulu bersih dan mengkilap, tanggal menetas tidak lebih lambat atau cepat.
2. Pakan
Kita ketahui bersama bahwa pakan mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha. Pakan untuk ayam kampung pedaging sebenarnya sangat fleksibel dan tidak serumit kalau kita beternak ayam pedaging, petelur atau puyuh sekalipun. Bahan pakan yang bisa diberikan antara lain : konsentrat, dedak, jagung, pakan alternatif seperti sisa dapur/warung, roti BS, mie instant remuk, bihun BS, dan lain sebagainya. Yang terpenting dalam menyusun atau memberikan ransum adalah kita tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam kampung yaitu protein kasar (PK) sebesar 12% dan energi metabolis (EM) sebesar 2500 Kkal/kg.
Jumlah pakan yang diberikan sesuai tingkatan umur adalah sebagai berikut :
  • 7 gram/per hari sampai umur 1 minggu
  • 19 gram/per hari sampai umur 2 minggu
  • 34 gram/per hari sampai umur 3 minggu
  • 47 gram/per hari sampai umur 4 minggu
  • 58 gram/per hari sampai umur 5 minggu
  • 66 gram/per hari sampai umur 6 minggu
  • 72 gram/per hari sampai umur 7 minggu
  • 74 gram/per hari sampai umur 8 minggu
Sedangkan air diberikan secara ad libitum (tak terbatas) dan pada tahap-tahap awal pemeliharaan perlu dicampur dengan vitamin+antibiotika.
3. Perkandangan
Syarat kandang yang baik : jarak kandang dengan permukiman minimal 5 m, tidak lembab, sinar matahari pagi dapat masuk dan sirkulasi udara cukup baik. Sebaiknya memilih lokasi yang agak rindang dan terhalangi oleh bangunan atau tembok lain agar angin tidak berhembus langsung ke dalam kandang.
Penyucihamaan kandang dan peralatannya dilakukan secara teratur sebagai usaha biosecurity dengan menggunakan desinfektan yang tepat dan tidak membahayakan bagi ternak itu sendiri. Banyak pilihan jenis desinfektan yang ditawarkan oleh berbagai produsen pembuatan obat.
Ukuran kandang : tidak ada ukuran standar kandang yang ideal, akan tetapi ada anjuran sebaiknya lebar kandang antara 4-8 m dan panjang kandang tidak lebih dari 70 m. Yang perlu mendapat perhatian adalah daya tampung atau kapasitas kandang. Tiap meter persegi sebaiknya diisi antara 45-55 ekor DOC ayam kampung sampai umur 2 minggu, kemudian jumlahnya dikurangi sesuai dengan bertambahnya umur ayam.
Bentuk kandang yang dianjurkan adalah bentuk postal dengan lantai yang dilapisi litter yang terdiri dari campuran sekam, serbuk gergaji dan kapur setebal ± 15 cm. Model atap monitor yang terdiri dari dua sisi dengan bagian puncaknya ada lubang sebagai ventilasi dan bahan atap menggunakan genteng atau asbes.
Pemeliharaan ayam kampung di bagi dalam dua fase yaitu fase starter (umur 1-4 minggu) dan fase finisher (umur 5-8 minggu). Pada fase starter biasanya digunakan kandang bok (dengan pemanas) bisa bok khusus atau juga kandang postal yang diberi pagar. Suhu dalam kandang bok biasanya berkisar antara 30-32°C. Pada fase finisher digunakan kandang ren atau postal seperti model pemeliharaan ayam broiler.
4. Manajemen Pemeliharaan
Manajemen atau tatalaksana pemeliharaan memegang peranan tertinggi dalam keberhasilan suatu usaha peternakan yaitu sekitar 40%. Bibit berkualitas serta pakan yang berkualitas belum tentu memberikan jaminan keberhasilan suatu usaha apabila manajemen pemeliharaan yang diterapkan tidak tepat. Sistem pemeliharaan pada ayam kampung bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu :
  • Ekstensif /tradisional (diumbar), tanpa ada kontrol pakan dan kesehatan
  • Semi intensif (disediakan kandang dengan halaman berpagar), ada kontrol pakan dan kesehatan ternak akan tetapi tidak ketat
  • Intensif (dikandangkan seperti ayam ras), ada kontrol pakan dan kesehatan dengan ketat
Model pemeliharaan ayam kampung secara intensif lebih disarankan dari yang lainnya terutama dalam hal kontrol penyakit. Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dari cara beternak secara intensif, akan tetapi kami tidak dapat menguraikannya di sini.
5. Pengendalian Penyakit
Hal yang tak kalah pentingnya adalah pengendalian penyakit. Kita semua akan setuju dengan statement “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan tindakan antara lain :
  1. Menjaga sanitasi lingkungan kandang, peralatan kandang dan manusianya
  2. Pemberian pakan yang fresh dan sesuai kebutuhan ternak
  3. Melakukan vaksinasi secara teratur
  4. Pemilihan lokasi peternakan di daerah yang bebas penyakit
  5. Manajemen pemeliharaan yang baik
  6. Kontrol terhadap binatang lain
Berikut kami uraikan sedikit beberapa jenis penyakit yang kerap menyerang ayam kampung :
  • Tetelo (ND)
Penyebab : paramyxivirus
Gejala : ngorok dan batuk-batuk, gemetaran, kepala berputar-putar, kelumpuhan pada kaki dan sayap, kotoran berwarna putih kehijauan.
Pencegahan : vaksinasi secara teratur, sanitasi kandang, terhadap ayam yang terkena ND maka harus dibakar.
Pengobatan : belum ada
  • Gumboro (gumboro disease)
Penyebab : virus
Gejala : ayam tiba-tiba sakit dan gemetar serta bulu-bulunya berdiri, sangat lesu, lemah dan malas bergerak, diare putih di sekitar anus.
Pencegahan : vaksinasi teratur dan menjaga sanitasi kandang
Pengobatan : belum ada
  • Penyakit cacing ayam (worm disease)
Penyebab : Cacing
Gejala : pertumbuhan terhambat, kurang aktif, bulu kelihatan kusam.
Pencegahan : pemberian obat cacing secara berkala, sanitasi kandang yang baik, penggantian litter kandang secara berkala, dan mencegah serangga yang dapat menjadi induk semang perantara.
Pengobatan : pemberian obat cacing seperti pipedon-x liquid, sulfaquinoxalin, sulfamezatin, sulfamerazin, piperazin dan lain sebagainya
  • Berak kapur (Pullorum)
Penyebab : Bakteri Salmonella pullorum
Gejala : anak ayam bergerombol di bawah pemanas, kepala menunduk, kotoran melekat pada bulu-bulu disekitar anus
Pencegahan : mengusahakan induk terbebas dari penyakit ini, fumigasi yang tepat pada mesin penetas dan kandang
Pengobatan : noxal, quinoxalin 4, coxalin, neo terramycyn  atau lainnya
  • Berak darah (Coccidiosis)
Penyebab : protozoa Eimeria sp.
Gejala : anak ayam terlihat sangat lesu, sayap terkulai, kotoran encer yang warnanya coklat campur darah, bulu-bulu disekitar anus kotor, ayam bergerombol di tepi atau sudut kandang.
Pencegahan : mengusahakan sanitasi yang baik dan sirkulasi udara yang baik pula atau bisa juga dengan pemberian coccidiostat pada makanan sesuai takaran
Pengobatan : noxal, sulfaquinoksalin, diklazuril atau lainnya
6. Pasca Panen dan Pemasaran
Pemasaran ayam kampung pada dasarnya mudah karena disamping jumlah permintaan yang tinggi, harga ayam kampung masih tergolong tinggi dan stabil, sedang produksi masih terbatas. Ayam kampung dapat dijual dalam bentuk hidup atau sudah dipotong (karkas). Rumah tangga, pengepul ayam, pasar tradisional, warung, supermarket sampai hotel berbintang membutuhkan pasokan ayam kampung ini. Harga ayam kampung hidup berkisar antara Rp 40.000 – Rp 50.000/ekor.
7. Pengelolaan Produksi
Sebagai seorang peternak yang profesional maka perlu untuk menjaga agar produksi yang kita lakukan dapat memenuhi standar kualitas dan kontinuitas produk. Maka diperlukan pengelolaan atau pengaturan produksi agar usaha kita dapat berproduksi secara kontinyu. Untuk kekontinuitasan usaha perlu pengaturan dan penjadwalan secara teratur kapan DOC masuk dan kapan ayam di panen, karena hal itu lebih disukai oleh pengepul atau mitra kerja kita daripada hanya sekali panen dalam jumlah banyak. Tapi perlu diingat juga bahwa pengelolaan produksi sangat terkait dengan modal, ketersediaan kandang, jumlah ketersediaan DOC, dan jumlah permintaan ayam siap panen.
Mudah-mudahan uraian di atas dapat menambah pengetahuan kita dalam hal beternak dan menjadikan cara beternak kita lebih baik. Saran dan kritik selalu kami nantikan untuk kemajuan kita bersama. Semoga kesuksesan selalu menyertai kita bersama. Aamiin… :)
0

Direktorat Perbibitan Ternak

Direktorat Perbibitan Ternak


Direktur Perbibitan Ternak
Ir. Abubakar, SE., MM

Alamat
Jl. Harsono RM No 3 Gedung C Lt.9 Ragunan, Jakarta Selatan
Telp. (021) 788 5117 Fax. (021) 781 5782

 
  • Visi
    Tersedianya benih dan bibit ternak berkualitas dalam jumlah yang cukup mudah diperoleh dan dijangkau serta terjamin kontinuitasnya
  • Misi
    1. Memfasilitasi tersedianya benih dan bibit ternak
    2. Mendorong usaha pembibitan ternak rakyat, pemerintah dan swasta
    3. Membina kelembagaan perbibitan
    4. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dibidang perbibitan
    5. Memanfaatkan sumberdaya genetik ternak secara optimal
  • Tujuan
    1. Meningkatkan produksi dan produktivitas benih dan bibit ternak serta pemanfaatan sumberdaya genetik ternak secara berkelanjutan
    2. Menyusun kebijakan dan strategi perbibitan ternak secara nasional
    3. Meningkatkan fungsi kelembagaan perbibitan rakyat, swasta dan pemerintah
    4. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia perbibitan
    5. Mewujudkan iklim usaha pembibitan yang kondusif
    6. Menyusun perencanaan dan pelaporan kegiatan perbibitan
  • Sasaran
    1. Penyediaan benih dan bibit ternak dalam jumlah yang cukup dan berkualitas secara berkelanjutan
    2. Penerbitan peraturan di bidang perbibitan untuk peningkatan pelayanan
    3. Optimalisasi fungsi kelembagaan perbibitan
    4. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia perbibitan (peternak, petugas, kelembagaan perbibitan)
    5. Fasilitasi usaha-usaha pembibitan ternak
    6. Penyusunan perencanaan dan pelaporan kegiatan perbibitan
  • Strategi
    1. Pembinaan perbibitan ternak unggulan nasional maupun daerah
    2. Memfasilitasi usaha pembibitan yang dilakukan UPT/UPTD, rakyat maupun swasta
    3. Mendorong usaha-usaha pembibitan ternak di pedesaan
    4. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia perbibitan melalui pelatihan, magang, studi banding, dan lain-lain
    5. Mendorong kemitraan usaha pembibitan ternak antara UPT/UPTD, peternak dengan pengusaha
    6. Mendorong pemanfaatan plasma nutfah secara berkesinambungan
  • Kebijakan
    1. Pengelolaan dan peningkatan mutu dan jumlah benih dan bibit ternak
    2. Penyusunan, penyempurnaan, sosialisasi ”Sistem Perbibitan Ternak Nasional” dan peraturan perbibitan
    3. Penguatan koordinasi dan kelembagaan perbibitan
    4. Penguatan SDM perbibitan
    5. Promosi dan membangun citra (brand image) bibit ternak
    6. Koordinasi perencanaan dan pelaporan
  • Program
    1. Peningkatan ketersediaan benih dan bibit ternak serta pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan plasma nutfah
    2. Peningkatan minat usaha pembibitan ternak dan membangun citra (brand image) bibit ternak
    3. Peningkatan koordinasi dan kelembagaan perbibitan
    4. Peningkatan dan pemberdayaan SDM perbibitan
    5. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan dibidang perbibitan
  • Tupoksi
    Direktorat Perbibitan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perbibitan. Dalam melaksanakan Direktorat Perbibitan menyelenggarakan fungsi :
    1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    2. Pelaksanaan kebijakan di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    3. Penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    4. Pemberian bimbingan teknis dan evalusi di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    5. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
    6. Penyusunan perencanaan dan pelaporan
  • 0

    Bisnis Menggiurkan Penetasan Telur Itik

    Bisnis Menggiurkan Penetasan Telur Itik


    Tak sedikit masyarakat Kroya – Karanganyar Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon, kini menyandarkan pendapatan utamanya pada bisnis penetasan telur itik skala rumah tangga. Dengan mengandalkan pasokan telur itik Rambon (Ras Masyarakat Cirebon) dari peternak sekitar, produksi DOD (Day Old Duck) atau anak itik hasil tetasan kawasan ini mampu mencapai 9,5 juta ekor per tahun.
    Cakupan distribusi DOD made in Kroya ini tidak sekadar Cirebon dan Jawa Barat, tetapi juga Banten, Jawa Tengah, sertaJawa Timur bahkan sudah merambah Sumatera dan Kalimantan. Padahal semula, usaha ini dipandang sebelah mata dan hanya merupakan kegiatan sampingan.
    Jabidi, adalah salah satu penduduk Kroya yang menggeluti usaha penetasan telur itik. Ia yang memulai usahanya14 tahunlaludengan10 mesin tetas berkapasitas 600 telur per unit, kini memiliki 30 unit mesin tetas dengan kapasitas 1.000 butir telur per unit. “Usaha di penetasan telur itik ini sangat aman dan tidak terpengaruh krisis ekonomi. Hanya sedikit terganggu pada saat awal merebaknya flu burung,” ungkap Jabidi kepada TROBOS beberapa waktu lalu.
    Selain sebagai penetas, Jabidi juga bermain sebagai pengepul telur tetas yang memasokpenetas lainnya. Ia mengakumendapatkan telur dari peternak itik minimal 2.000 – 3.000 butir per 3 hari. Jika sedang banyak, telur yang dapat dikumpulkan bisa mencapai 7.000 – 10.000 butir. “Saya baru mampu memenuhi 5 % dari kebutuhan telur tetas yang ada. Terlalu banyak telur yang dikumpulkan pun tidak efektif karena telur fertil itu optimal disimpan sebelum ditetaskan sekitar 2 hari. Apalagi masih ada pengumpul telur tetas lainnya,” tuturnya.
     
    Ditetaskan Bertahap
    Dalam menetaskan telur itik, Jabidi tidak mengisi semua mesin tetas tetapi dilakukan secara bertahap. Sekali produksi, rata–rata ditetaskan 1.000 – 4.000 telur. Sedangkan mesin tetas yang tidak digunakan diistirahatkan dan disterilkan sekitar 3-7 hari dengan menggunakan desinfektan atau sabun untuk mematikan mikroorganisme.
    Telur yang dikumpulkan dari kandang diseleksi,dipisahkan antara yang bersih dengan yang kotor.“Telur yang kotor kurang bagus kalau ditetaskan,” ungkap Jabidi. Ditambahkannya, telur yang kotor kemudian diolah untuk telur asin.
    Jabidi melanjutkan, telur bersih kemudian masuk mesin tetas. Keesokan harinya dilakukan candling (peneropongan) telur menggunakan lampu untuk mengetahui fertilitas telur. Pada telur yang fertil terdapat tunas. Candling kembali dilakukan pada hari ke-5 untuk menyeleksi lagi telur yang fertil dan tidak. Pada telur fertil terlihat urat darah seperti laba - laba.
    Sedangkan telur yang mati ada lingkaran dan urat darahnya putus– utus, hilang atau bahkan kosong.“Candling terakhir dilakukan pada hari ke-15. Telur yang hidup akan tampak berwarna gelap/hitam dan yang mati berwarna terang,” jelasnya.
    Bernilai Tambah
    Pria yang belajar penetasan telur itik secara otodidak ini mengungkapkan, banyak nilai tambah dalam usaha penetasan telur itik ini. Telur yang baru dibeli dari kandang dan didiamkan semalam di mesin tetas lalu ketika di-candling dan terdapat tunas nilai jualnya akan meningkat. Dari harga beli telur yang Rp 1.420 per butir, ia bisa menjual telur bertunas Rp 1.750. Sedangkan untuk DOD jantan dijual Rp 3.500 dan betina Rp 4.500. “DOD yang dihasilkan dengan umur 1 – 5 hari langsung dijual di tempat,” ujarnya.
    Ia menggambarkan keuntungan dari penetasan telur itik ini minimal setengahnya dari modal. Dari kapasitas mesin tetas 1.000 butir per unit keuntungan minimal sekitar 300 butir per unit. “Kalau sudah dikurangi listrik dan tenaga kerja keuntungan bersih sekitar 200 butir,” katanya.
    (Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=3088)
    0

    Ayam ASUH Membawa Untung

    Ayam ASUH Membawa Untung


    Kegiatan sosialisasi ayam ASUH-nya (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) kembali digelar Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan FAO (Food & Agriculture Organization/badan pangan dan pertanian dunia) di Rumah Potong Ayam (RPA) Rawa Kepiting, Jakarta Timur itu medio Maret 2012. Salahsatu narasumber yang dihadirkan yaitu Yati mewakili pedagana ayam ASUH.

    Dihadapan 50 pemotong dan pedagang ayam di Pasar Keramat Jati dan Pulo Gadung, Yati mengatakan, bahwa produk ayam ASUH yang dijualnya tidak cepat biru dan kalau dimasak tidak ciut. ”Bisa demikian karena setelah ayam dipotong, dicabut bulu, trus langsung direndam dalam air dingin bersuhu sekitar 4o C selama 2 jam. Pori-porinya trus tertutup dan kualitasnya pun terjaga. Dijualnya juga pake styrofoam yang diisi es batu,” terangnya.

    Saat ini Yati mampu menjual hingga 3.000 ekor per hari kepada pelanggannya di seputaran Jakarta Barat. Ia memulai bisnisnya ini dengan menjual 5 ekor ayam ASUH (bentuk karkas) yang dibeli dari RPA Kartika Eka Dharma pada 2004. Keunggulan ayam ASUH Yati ini menyebar dari mulut ke mulut antar pedagang sayur, sate, dan warteg. Kini menurut Yati, di seputaran Jakarta Barat, konsumen, dan pedagang sudah banyak yang mengerti akan kualitas ayam ASUH.

    Selain Yati, acara ini juga menghadirkan Suparno yang akrab disapa Nojeng—pemotong dan pedagang dari Pulo Gadung. Berbeda dengan Yati, Nojeng membeli ayam dari pangkalan lalu memotongnya secara ASUH di RPA Rawa Kepiting—RPA yang diakui oleh Pemprov DKI Jakarta untuk wilayah Jakarta Timur. Dan Nojeng pun melontarkan pendapat senada dengan Yati bahwa ayam ASUH memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang ayam ’hangat’.

    Sosialisasi Terus Menerus
    Kata Ipih Ruyani yang Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Yati dan Nojeng sengaja dihadirkan untuk membagi pengalaman, sekaligus mengajak para pemotong dan pedagang di Pasar Keramat Jati dan Pulo Gadung untuk berubah. Lanjut Ipih, sosialisasi seperti ini adalah yang ke dua kalinya dan dikhususkan untuk pemotong dan pedagang ayam di bawah 50 ekor.

    Ipih berharap agar para pemotong dan pedagang ayam bisa berubah. Dari yang sebelumnya memotong di rumah, bisa memotong di RPA Rawa Kepiting. Atau tinggal membeli saja bila jumlah penjualan masih sedikit. ”Kami memang harus sabar. Sebab tidak mudah untuk mengubah perilaku. Tapi yang pasti kami sampaikan kepada mereka bahwa kami bukan ingin menghilangkan lapangan kerja mereka. Tapi justru ingin membuat mereka lebih maju dan jangan sampai terlindas oleh ritel ayam ASUH milik perusahaan yang kian banyak dan kian dekat ke konsumen,” terangnya.

    Melihat Langsung
    Tak hanya sosialisasi dalam bentuk ceramah dan berbagi pengalaman, sosialisasi kali ini juga dilengkapi dengan melihat langsung proses pemotongan ayam di RPA Rawa Kepiting yang dipandu oleh Nojeng. Seru Nojeng, ”Program pemerintah ini bukan untuk menyengsarakan kita, tapi untuk memajukan usaha kita.” Buktinya, sambung Nojeng, retribusi per ekor atas penggunaan fasilitas di RPA Rawa Kepiting hanya Rp 75. Ini sudah termasuk penggunaan fasilitas pemotongan, listrik, air, plastik pembungkus, plus kontrol kualitas oleh tim QC (Quality Control). Biaya selain itu, pemotong hanya membeli es balok saja untuk bak perendaman dan boks distribusi.

    Kepada para peserta Nojeng lalu menunjukkan bak perendaman dingin yang telah diisi es. ”Ini lah ’formalin’ saya bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujarnya. Sarannya, daripada menggunakan formalin yang terbukti membahayakan konsumen, lebih baik sisihkan uang untuk beli es balok. ”Di pemotongan ini, untuk 100 ekor ayam, saya hanya perlu 2 es balok saja. Harga es balok di sini juga murah, hanya Rp 15.000 per balok,” tuturnya.

    TROBOS mengamati, sosialisasi yang dikombinasi dengan meninjau langsung fasilitas dan proses pemotongan yang ASUH tampak lebih efektif. Sebab diskusi terasa lebih hidup, aktif dan peserta bisa melihat langsung seperti apa dan bagaimana konsep ASUH itu. Seperti diungkapkan oleh Marlan, penampung ayam di Keramat Jati yang turut serta, sosialisasi seperti ini lebih membuka wawasannya tentang bagaimana ayam yang higienis. Marlan berharap sosialisasi ini terus dilakukan secara rutin agar proses penyadaran lebih cepat.

    (Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=3336)
    0

    Teknologi Pemuliaan dalam Meningkatkan Kapasitas Produksi Itik Lokal

    Teknologi Pemuliaan dalam Meningkatkan Kapasitas Produksi Itik Lokal

    Ada 3 kategori sistem pemeliharaan yaitu (i) sistem ekstensif, dimana ternak itik digembalakan dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari sumber pakan di sawah-sawah yang selesai dipanen, (ii) sistem semi-intensif, dimana ternak itik dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan itik mulai diberi pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, dan (iii) sistem intensif, dimana ternak itik dipelihara terkurung sepanjang periode produksi telur dan kebutuhan pakan disediakan oleh peternak seluruhnya.

    Hal tersebut dikemukakan oleh L. Hardi Prasetyo seorang peneliti di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor dalam acara seminar nasional dan kongres I Indonesia Society of Animal Agriculture (ISAA) di Semarang. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Aspek Zooteknis untuk Mendukung Sumberdaya dan Ternak Lokal” dengan diikuti oleh para akademisi, praktisi dan peneliti di bidang peternakan.

    Hardi Prasetyo mengatakan, bahwa pemeliharaan itik secara intensif menimbulkan konsekuensi meningkatnya biaya produksi. Untuk itu, agar usaha ternak itik tetap menguntungkan dan menarik bagi peternak diperlukan aplikasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, serta penerapan prinsip-prinsip ekonomis usaha. “Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan bibit unggul yang dihasilkan dari penerapan teknologi pemuliaan pada ternak-ternak yang memang potensial, di samping pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara tepat.,” ungkap Hardi Prasetyo.

    Pengembangan bibit unggul
    Hardi mencontohkan, seperti halnya pada berbagai komoditas ternak lain, itik juga sudah mengalami proses pemuliaan di beberapa negara. Bibit unggul itik petelur yang pasar utamanya di negara-negara Asia telah dihasilkan di Taiwan dan Vietnam melalui proses seleksi yang terarah. Itik petelur unggul Brown Tsaiya telah dihasilkan di Taiwan melalui proses seleksi selama 13 generasi dengan peningkatan produksi telur sampai umur 52 minggu dari 207 menjadi 229 butir dan umur pertama bertelur turun dari 126 hari menjadi hanya 108 hari tanpa mengurangi bobot telur. Seleksi terhadap sifat lain juga telah dilakukan di Taiwan untuk memperbaiki kekuatan kerabang telur, warna kerabang telur, fertilitas dan daya tetas telur.

    Sedangkan di Vietnam, seleksi terhadap itik Co, yang diduga berasal dari Indonesia, dapat meningkatkan produksi telur selama 1 tahun sebesar14,5%. Untuk itik pedaging, di Taiwan telah dilakukan seleksi terhadap itik Manila (entog) dan itik Peking yang persilangan diantaranya menghasilkan itik Serati yang berbulu putih sebagai penghasil daging dan bulu halus (down feather). Di Perancis telah dikembangkan beberapa galur komersial dari itik Manila dan itik Peking pada tingkat GPS (Grand Parent Stock) dan PS (Parent Stock) untuk menghasilkan itik Serati sebagai penghasil daging dan hati (liver). Kriteria seleksi yang digunakan adalah terutama sifat-sifat produksi telur, kualitas karkas, dan sifat-sifat reproduksi.

    Lebih jauh Hardi Prasetyo mengatakan, di Indonesia pemanfaatan teknologi pemuliaan juga telah dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul ternak itik, baik petelur maupun pedaging. Peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sendiri telah melakukan seleksi 5 generasi terhadap sekelompok itik Alabio dan itik Mojosari untuk menghasilkan itik hibrida petelur unggul hasil persilangan diantara kedua kelompok terseleksi tersebut. Hibrida tersebut, yang dinamakan Itik Master, mempunyai beberapa keunggulan yaitu (i) Rataan produksi telur setahun mencapai 71,5%, (ii) umur pertama bertelur 18 minggu, (iii) rataan puncak produksi telur mencapai 93,4%, (iv) konversi pakan 3,22, dan (v) anak itik jantan dan betina pada saat menetas dapat dibedakan dengan mudah dari warna bulunya.

    “Hasil uji coba di tingkat peternak menunjukkan bahwa itik hibrida ini lebih unggul dari bibit induknya maupun silang balik kepada salah satu induknya, selama produksi telur 1 tahun,” terang Hardi Prasetyo yang juga aktif sebagai pengurus organisasi Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) ini.

    Untuk itik pedaging, Balitnak telah merintis pengembangan galur bibit unggul baru yang berasal dari kombinasi antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Hasil persilangan tersebut mengalami proses seleksi selama beberapa generasi untuk memperoleh galur baru yang stabil, sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam negeri, dan untuk sementara disebut itik PMp. Adanya bibit unggul pedaging baru ini diharapkan dapat menggantikan bibit itik Peking yang selama ini diimpor, dan juga menyesuaikan dengan selera konsumen lokal yang lebih menghendaki itik potong ukuran sedang.

    Keunggulan bibit itik PMp ini adalah bulunya yang putih sehingga menghasilkan warna dan kualitas karkas yang tinggi, mencapai bobot potong dalam umur 8-10 minggu dengan konversi pakan sebesar 3,8. “Jika konsumen memerlukan ukuran karkas yang lebih besar maka itik PMp ini dapat disilangkan dengan entog jantan untuk menghasilkan itik serati dengan bobot potong mencapai 3 kg dalam 10-12 minggu,” kata Hardi Prasetyo.

    Implikasi dari tersedianya bibit unggul
    Pengembangan bibit unggul sebagai galur komesial mampu meningkatkan produktivitas ternak itik lokal, melalui penerapan teknologi pemuliaan yang tepat sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Peningkatan produksi telur per individu betina induk dari bibit unggul dapat mencapai 10-15% jika dibandingkan dari sebelumnya proses pemuliaan pada pemeliharaan intensif, namun jika dibandingkan dengan induk yang dipelihara secara ekstensif atau semi-intensif peningkatan dapat mencapai 30-40%.

    Hal ini jelas menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi per ekor induk baik dalam menghasilkan telur konsumsi, telur tetas maupun itik potong. Selanjutnya, untuk memperoleh manfaat tersebut perlu ada pengembangan sistem produksi yang benar dengan unit pembibitan yang terarah, dan dengan orientasi komersial dan skala usaha ekonomis.

    “Hal inilah yang sampai saat ini masih sulit diwujudkan karena pada umumnya pemeliharaan ternak itik hanya sebagai kegiatan sambilan atau musiman sebagai pengisi waktu kosong antar pertanaman padi atau tanaman pangan lain.” Ungkap Hardi prasetyo.

    Sumber (http://www.poultryindonesia.com/news/kesehatan/riset-artikel-referensi/pemanfaatan-teknologi-pemuliaan-dalam-meningkatkan-kapasitas-produksi-itik-lokal/)
    0

    Bangga dengan Ayam Gaga�

    Bangga dengan Ayam Gaga�


    Sebagai salah satu ternak ayam lokal yang menjadi aset sumberdaya genetik, ayam Gaga’ telah menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan. Saat ini ayam Gaga’ cukup terkenal dan berkembang di beberapa Kabupaten di Provinsi Sulsel, dengan populasi terbanyak berada di Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rappang). Dalam kultur budaya masyarakat setempat, selain sebagai penghasil daging dan telur, ternak ayam Gaga’ juga mempunyai fungsi sebagai ayam kontes karena memiliki suara yang khas serta nilai jual yang menggiurkan.

    Menurut Amiruddin (2011), ternak ayam Gaga’ di mata masyarakat Bugis khususnya masyarakat Sidrap bukanlah ayam aduan, bukan pula sekedar penghias sangkar, melainkan memiliki nilai budaya, yaitu sebagai sennuangeng dan simbol keperkasaan juga status sosial bagi yang memilikinya. Sennuangeng adalah harapan agar dapat memperoleh keberuntungan dalam pekerjaan atau usaha, disamping itu ayam Gaga’ dianggap sebagai simbol status sosial dan simbol keperkasaan serta simbol kepahlawanan yang dilekatkan kepada orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Dengan demikian ternak ayam Gaga’ dikalangan Etnis Bugis mempunyai nilai budaya yang sangat unik maupun sebagai sennuangeng, simbol keperkasaan, keberanian dan kepahlawanan.

    Ayam Gaga’ dibedakan menjadi beberapa jenis warna ; (a). Bakka : warna dasar putih mengkilat dengan dihiasi warna hitam, oranye, merah dan kaki hitam atau kaki putih, (b). Lappung : warna dasar hitam dengan dihiasi warna merah hati, kaki hitam dan mata putih, (c). Ceppaga : warna dasar hitam dengan dihiasi warna hitam dan putih, ditambah bentuk putih dibadan sampai pangkal lehar dan kaki hitam.

    Kita tahu, ayam Gaga’ ini bagi sebagian kalangan hobies dijadikan sebagai bisnis unik yang menarik, terkadang keberadaan ayam Gaga’ ini dijadikan sebagai penghilang stres karena selain nyentrik suaranya pun bisa menghibur pendengarnya, sehingga tidak heran bila ayam Gaga’ ini dikenal sebagai ayam ketawa. Bagi kalangan tertentu ayam ketawa ini sebagai warisan yang luar biasa berharga, tidak heran pemerintah menjadikan ayam Gaga’ ini sebagai salah satu keanekaragaman Sumber Daya Genetik (SDG) hewan sebagai salah satu aset Negara Indonesia. Hal seperti ini menjadi tanggungjawab pemerintah pusat maupun daerah untuk selalu menjaga dan melestarikan keberadaanya, sehingga dapat menjadi unggulan asli Provinsi Sulawesi Selatan.

    Dalam perkembangannya, ayam Gaga’ menjadi salah satu ternak asli dan lokal yang merupakan plasma nutfah Provinsi Sulawesi Selatan, dan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2920/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penetapan Rumpun Ayam Gaga, telah di tetapkan sebagai salah satu rumpun ayam lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Ayam Gaga’ ini memiliki keseragaman bentuk fisik dan komposisi genetik serta kemampuan adaptasi baik pada keterbatasan lingkungan, dimana memiliki ciri khas yang berbeda dengan rumpun ayam asli atau rumpun ayam lokal lainnya.

    Adapun ayam Gaga’ ini memiliki sifat kualitatif seperti jengger/balung: tunggal, bergerigi, berwarna merah; warna bulu: putih, merah atau hitam; warna ceker: putih, kuning, atau hitam; suara ayam jantan: mirip suara manusia tertawa dengan tempo cepat, (kuk kruk ku kha kha kha), sedang (kuk kruk ku...kha...kha...kha) atau lambat (ku kru ku ....kha .... kha....kha) setiap kokok terdiri dari suara kokok depan, tengah dan penutup. Sifat kuantitatif seperti suara: frekuensi berkokok 2-15 kali dari standar bunyi 2 kali dalam durasi kontes suara; bobot badan dewasa: sama dengan bibit badan dewasa ayam kampung pada umumnya; sifat reproduksi: sama dengan sifat reproduksi ayam kampung pada umumnya; wilayah sebaran: Provinsi Sulawesi Selatan.

    Dalam perjalanannya Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan berbagai hal untuk perkembangan ayam Gaga’ salah satunya yaitu dengan diadakannya kontes, adapun kontes ayam Gaga’ yang pertama yaitu pada tahun 1997 di areal Monumen Bambu Runcing Rappang Kecamatan Pancarijang, kontes kedua di Desa Kanie Kecamatan Maritengnae, Kontes ketiga di Pinrang Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap.

    Selain kontes, juga dilaksanakan kegiatan Mappasipulung merupakan kegiatan yang mirip dengan kontes namun tidak dinilai seperti kontes resmi, karena ayam ditenggerkan pada satu lokasi yang bersamaan, jadi sifatnya hanya untuk promosi serta mempererat persatuan dikalangan peternak, pencinta dan penggemar. Hal lain untuk mengenalkan ayam Gaga’ yaitu dengan dibentuknya perkumpulan atau organisasi penggemar ayam Gaga’ setingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang di kenal dengan Persatuan Penggemar dan Pelestari Manu Macawa (P3MM), harapan kedepannya berusaha untuk memajukan dan mengembangkan agar ayam Gaga’ ini bisa berkembang dan tetap terjaga kelestariannya.

    Ayam Gaga´ salah satu ternak lokal asli Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri, seyogyanya dapat mampu menjadi ikon berharga bagi Provinsi Sulawesi Selatan dan mampukah ayam Gaga’ bertahan dan terus berkembang menjadi rumpun/galur ternak Indonesia yang terjaga kelestariannya?

    (Oleh : Ian Sopian, S.Pt dan Maria Flora Butar-Butar, S.Pt - Direktorat Perbibitan Ternak)
    0

    PEMBIBITAN SAPI PERAH DI SATKER PAGERKUKUH

    PEMBIBITAN SAPI PERAH DI SATKER PAGERKUKUH

    PENDAHULUAN
    Saat ini di negara kita terjadi kesenjangan yang cukup besar antara permintaan susu dan ketersediaannya. Salah satu faktor penyebabnya adalah ternak sapi perah yang dimiliki peternak kita terbatas kualitasnya. Guna mendukung ketersediaan bibit sapi perah yang berkualitas di Jawa Tengah, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mendirikan Satuan Kerja (Satker) Pembibitan Sapi Perah Pagerkukuh yang berlokasi di Wonosobo. Satker ini di bawah koordinasi Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Ruminansia sebagai salah satu Balai Teknis di naungan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah.

    SATUAN KERJA PAGERKUKUH

    Lokasi : Desa Pagerkukuh Kec. Kota Kab. Wonosobo
    Sarana Prasarana :
    • Bangunan kantor, rumah dinas, ruang pertemuan.
    • Kandang induk, dara, pedet.
    • Instalasi air dengan pompa.
    • Instalasi Penampung dan Pengolahan limbah feses.
    • Mini Milk Cooling.
    • Kebun Rumut.
    Sumber Daya Manusia : PNS dan Honor
    Populasi Ternak (PFH)  : 30 ekor.

    SUMBER BIBIT

    Bibit diperoleh dengan cara :
    • Pengadaan langsung induk bibit (berasal dari peternak rakyat, pasar, atau pembibit swasta) dengan  cara pembelian melalui penjaringan. Syaratnya : memiliki rekord produksi susu, diperbaiki performans dan kondisi reproduksinya.
    • Pembesaran dari pedet betina yang dihasilkan, melalui seleksi keturunan induk betina yang diperoleh dengan perkawinan IB
    RANSUM DAN KOMPOSISI PAKAN

    Ransum pakan yang diberikan berasal dari :
    1. Hijauan (rumput unggul) dan jerami olahan.
    2. Konsentrat Ruminansia, ampas tahu, dan ampas kecap.
    3. Suplemen ruminansia (multivitamin, mineral, MCR)
    Komposisi pakan yang diberikan adalah :
    1. Hijauan : 10 % bobot badan (+  30-40 kg/ek/hr)
    2. Konsentrat : +  1 - 2 % bobot badan (+ 3 - 5 kg/ek/hr)
    3. Ampas Tahu / kecap : +  5 - 10 kg/ek/hr (insidential)
    4. Multivit / mineral : + 10 - 30 gr/ek/hr ( kondisional)
    MANAGEMEN KANDANG

    Ada beberapa jenis kandang untuk pembibitan sapi perah di Satker Pagerkukuh. Kandang Induk baik saat bunting, laktasi, induk siap kawin maupun kering masih bersatu, hanya saja dikelompokkan sesuai dengan kondisi masing-masing ternak, sehingga setiap saat dilakukan pergeseran tempat ternak dalam satu kandang. Kandang Induk berkapasita + 50 ekor sedangkan sapi dara dipisahkan dari kelompok induk dan ditempatkkan dalam kandang tersendiri dengan kapasitas + 25 ekor. Untuk pedet yang beru lahir segera dipisahkan dari induknya dan ditempatkan dalam kandang khusus pedet yang berkapasitas + 10 ekor dalam kandang bersekat individu dengan luas + 3 - 5 m2/ekor.

    REPRODUKSI

    Mengidentifikasi ternak yang dipelihara, sejak pedet ataupun sejak tiba di kandang apabila ternak tersebut merupakan ternak bibit hasil pengadaan/pembelian. Mengelompokkan populasi ternak sesuai tahapan perkembangan dan status reproduksi ternak (dara, dara siap kawin dan induk siap kawin, induk telah kawin, induk bunting, induk menyusui). Mengamati, memonitor, mencatat (record) secara cermat dan kontinyu setiap hari bila ada gejala birahi atau perilaku reproduksi lain yang timbul pada setiap individu ternak.
    Memberi perhatian dan tindak lanjut segera dari hasil pengamatan perilaku reproduksi (IB, PKb, ATR, persiapan partus/kelahiran, dll) terhadap ternak.
    Untuk ternak yang mengalami gangguan reproduksi maka dilakukan beberapa cara :
    • Exercise
    • Perbaikan nilai kondisi badan (BCS = Body Condition Score) secara proporsional.
    • Peningkatan nilai gizi pakan (vitamin/mineral)
    • Entiseptik.
    • Pemberian hormon reproduksi.
    Untuk meningkatkan kualitas genetik ternak yang dihasilkan, maka di Satker Pagerkukuh diterapkan IB dengan frosen semen unggul dan aplikasi teknologi Embrio Transfer (ET). Dengan manajemen reproduksi diterapkan selama ini, sementara ini pencapaian kelahiran pedet pertahunnya dicapai + 35-40% dari populasi induk produktif. Guna mempertahankan produktifitas susu harian dan kegiatan perencanaan replacemen ternak induk, maka jadwal perkawinan diatur sedemikian rupa sehingga jumlah induk laktasi berkisar antara 60-70% dari populasi.

    Dari faktor kondisi alat reproduksi, pengafkiran ternak induk dilakukan apabila ternak tersebut telah berusia + 7-8 tahun, sehingga untuk tujuan replacemen induk maka jumlah pedhet betina yang dilahirkan (+ 5 ekor per tahun) seluruhnya akan dibesarkan untuk dijadikan calon induk. Sedang pedhet jantan yang dihasilkan (diperkirakan + 6 ekor per tahun) seluruhnya akan dibesarkan sampai berumur 6-8 bulan untuk kemudian dijual sebagai ternak bibit jantan.

    Pemisahan pedhet dari induknya dilakukan setelah pedhet berumur 7 hari, namun demikian pemberian air susu terhadap pedhet tetap dilakukan hingga berumur 3 bulan yaitu saat penyapihan pedhet).

    Perkawinan IB untuk induk setelah melahirkan ditargetkan dilakukan saat pedhet berumur + 42 s.d 90 hari dengan toleransi IB ulang sebanyak 2 kali, sehingga diharapkan  dicapai calving interval (waktu selang kelahiran pedhet) 13 bulan.

    TERNAK SEHAT

    Guna mempermudah pengelolaan pemeliharaan ternak, populasi ternak dikelompokkan dan ditempatkan pada kandang yang sesuai status kesehatannya, seperti misalnya kandang kelahiran, kandang pemerahan, dan karantina.

    Setiap ternak baru ditempatkan di kandang karantina selama 1-2 bulan untuk adaptasi tempat, pengamatan kesehatan, peningkatan stamina dan perbaikan performans. Dilakukan pengamatan terhadap kondisi kesehatan ternak setiap hari. Pemberian vitamin, anti cacing dan vaksin secara periodik, yaitu vitamin setiap bulan, anti cacing setiap 3 bulan, dan vaksin sesuai kebutuhan.

    Guna menjaga kesehatan induk dan calon pedhet yang dilahirkan terhadap induk yang menjelang melahirkan (pra-partus) diberi pakan dengan nutrisi khusus, vitamin E dan suplai cairan calsium (terutama untuk induk berproduksi tinggi) serta exercise.

    PRODUKSI & PEMASARAN

    Pembibitan di Satker Pagerkukuh menghasilkan produk pokok berupa Sapi Perah bibit dan air susu sapi serta produk sampingan berupa sapi dewasa afkir, susu segar/pasteurisasi dan pupuk kandang.

    Produk susu segar, susu terpasteurisasi dapat dibeli langsung di lokasi setiap hari. Berhubung produk sapi bibit atau afkir populasinya terbatas, maka masyarakat yang ingin memperolehnya harus melalui pemesanan dan penawaran lebih dulu, mengingat penjualan untuk produk ini diatur melalui panitia khusus penjualan yang ditetapkan Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Ruminansia.


    ANDA BERMINAT....??
    0

    Pemeliharaan Sapi Potong Jantan

    Pemeliharaan Sapi Potong Jantan

    PENDAHULUAN
    Seperti kita ketahui bahwa kebutuhan akan protein hewani setiap tahun meningkat. Hal ini harus diimbangi dengan peningkatan produksi protein hewani, baik berupa daging, telur maupun susu. Pemeliharaan sapi potong jantan atau lebih dikenal dengan nama "kereman" merupakan salah satu cara meningkatkan produksi protein hewani berupa daging.

    JENIS TERNAK

    Jenis ternak sapi yang dipilih yang memiliki kemampuan penambahan bobot badan harian tinggi, misalnya Limousine, Simental, PFH Jantan maupun Peranakan Onggole.

    KANDANG

    Kandang yang banyak diguanakan oleh peternak kita adalah type konvensional. Berdasarkan konstruksinya bentuk kandang kelompok type ini terbagi atas :
    •    Type satu baris, yaitu sapi ditempatkan dalam posisi satu baris.
    •    Type dua baris, yaitu sapi ditempatkan dalam dua baris dengan posisi saling berhadapan (head to head) atau saling membelakangi (tail to tail) dan diantara dua baris posisi tersebut ditempatkan jalur jalan
    Dengan bentuk kandang daiatas, kebutuhan luas ruang yang dibutuhkan setiap ekor sapi dewasa minimal 1,6 m x 1,30 m.

    PAKAN

    Agar produksi dagingnya baik, memenuhi harapan yang diinginkan, pakan yang diberikan pada ternak harus cukup dan seimbang, baik dalam hal volumenya maupun kandungan nutrisinya.
    Pakan yang diberikan terdiri atas :
    •    Hijauan minimal 10 % dari bobot badan,
    •    Konsentrat antara 1-2 % dari bobot badan,
    •    Suplemen (vitamin, mineral, calsium) secukupnya/sesuai kebutuhan,
    •    Air minum tidak dibatasi (ad libitum).
    Pemberian pakan diatas diharapkan dapat dicapai pertambahan bobot badan (PBB) harian minimal 0,5 kg (PO) dan 0,7 kg (Simental, Limousine, PFH) dengan pakan diberikan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

    PENGENDALIAN PENYAKIT

    Pencegahan timbulnya penyakit pada ternak potong jantan merupakan hal yang penting dalam pengendalian penyakit. Kegiatan yang dilakukan adalah : sanitasi kandang/lingkungan, pengaturan ventilasi cahaya dan sirkulasi udara, kecukupan pakan dan pemberian anti ektoparasit/endoparasit pada ternak.
    Penyakit yang sering menyerang ternak kereman adalah :
    •    Penyakit kulit.
    Cara mencegah/mengatasinya, sapi harus dalam kondisi bersih (mandikan secara rutin, sanitasi kandang), semprot dengan Gusanex (luka infeksi), mandikan dengan larutan belerang atau obati dengan bahan vermentin (ivomec, bernomec,dll).

    •    Penyakit Kembung
    Cara mencegah dan mengatasinya tidak diberi HMT muda, HMT dilayukan terlebih dahulu, lakukan exercise secara periodik (waktu tidak terlalu pagi), diberi minum larutan anti kembung antara lain : gula merah, jahe, kopi bubuk, minyak goreng (cara tradisional) atau dengan antibloat.
    •    Cacing
    Mencegah dan mengatasinya dengan menjaga kebersihan kandang, membersihkan dan mengumpulkan feses, kotoran ternak pada tempat tertentu setiap hari, beri tambahan daun pepaya secara rutin, beri anti cacing pada awal pemeliharaan dan setiap 1-3 bulan.
    INFORMASI LAINNYA
    Info Pemsaran Hubungi Satker Pembibitan Sapi Kereman di Maron Kabupaten Temanggung dan Satker Sumberejo Kabupaten Kendal atau melalui Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Ruminansia, Jl.MT.Haryono No.62 Ungaran, Telp.024.6923095.
    0

    BUDIDAYA IKAN HIAS OSCAR


    BUDIDAYA IKAN HIAS OSCAR
    (Astronatus Ocellatus)
    1. PENDAHULUAN
    Ikan Oscar merupakan jenis ikan air tawar yang berasal dari sungai Amazone,
    Panama, Rio-Paraguay dan Tio-Negro Amerika Selatan, serta sudapat
    dikembang-biakan di Indonesia.
    Ikan Oscar mempunyai bentuk dan warna yang menarik. Warna badannya
    kehitam-hitaman dengan batikan berwarna kuning kemerah-merahan. Tidak
    seperti ikan hias lain, ikan oscar memerlukan perlakuan sedikit khusus pada
    cara perkembangbiakannya, sehingga ikan Oscar ini termasuk ikan yang
    mahal.
    II. PEMIJAHAN
    1) Pemilihan Induk
    a. Induk yang baik untuk dipijahkan sudah berumur 1,5 tahun sampai 2
    tahun dengan panjang badan 15 cm dan tinggi badan 10 cm serta
    berwarna cerah.
    b. Seleksi induk dimulai saat ikan Oscar masih remaja (5 ~ 6 bulan), dengan
    cara mencampurkan 5 ekor jantan dan 5 ekor betina. Ikan Oscar remaja
    ini akan mencari pasangannya sendiri-sendiri. Setelah saling berpasangan
    maka kita pisahkan di bak tersendiri sampai menjadi induk.
    2) Perbedaan Induk Jantan dan Betina
    Induk Jantan Induk Betina
    - panjang badan relatif lebih
    panjang
    - alat kelamin lebih menonjol
    - induk yang telah matang
    perutnya gendut
    - lubang kelamin lebih besar
    3) Cara Pemijahan
    a. Bak perkawinan terbuat dari semen yang berukuran 1 1/2 x 1 x 0,5m3, diisi
    air yang telah diendapkan selama 12 ~ 24 jam setinggi 30 ~ 40 cm.
    b. Jika bak perkawinannya luas, dapat disekat.
    c. Sepasang induk Oscar yang telah matang telur dimasukkan ke dalam bak.
    d. Pada setiap kolom diberi batu ceper yang berwarna gelap dan di atasnya
    ditutup sebagian besar agar suasana kolom menjadi teduh.
    e. Oscar mengadakan pemijahan siang dan sore hari langsung dibuahi oleh
    pejantan.
    f. Telur yang berada di atas batu ceper tersebut yang telah dibuahi
    diangakat dimasukkan ke dalam aquarium untuk ditetaskan. Aquarium
    berukuran 70 x 40 x 40 cm3 diisi air setinggi 10 cm, untuk telur sepasang
    induk.
    g. Ke dalam aquarium diberi udara (aerasi) dengan kekuatan lemah.
    h. Selesai 3 hari biasanya telur-telur mulai menetas.
    i. Air diberi campuran emalin atau methylene blue.
    3. PEMELIHARAAN BENIH
    1) Benih ikan ini sampai berumur 4 hari belum perlu diberi makan, karena
    masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sacknya (kuning telur).
    2) Pada hari ke 5 benih diberi makanan Rotifera. Pemberian makanan ini tidak
    boleh terlambat karena ikan Oscar bersifat kanibal (memangsa sesamanya).
    3) Pada hari ke 10 sudah bisa diberi kutu ari yang telah disaring.
    4) Setelah berumur 2 minggu benih mulai diberi kutu air tanpa disaring dan
    mulai dicoba cacing rambut.
    5) Benih sudah dapat dipindahkan ke bak/kolam yang lebih luas setelah
    berumur 25 hari.
    4. PEMBESARAN
    1) Pembesaran ikan dilakukan setelah benih berumur 25 hari.
    2) Benih yang dihasilkan kira-kira 1000 s/d 3000 ekor untuk satu kali
    penetasan.
    3) Bak yang digunakan berukuran 2 x 1 x 1 m3, dan diisi air setinggi 20 - 25 cm.
    4) Untuk pertama kali pembesaran dapat ditebar kurang lebih 300 ekor ikan.
    5) Untuk mengurangi teriknya matahari pada siang hari, di dalam bak diberi
    tanaman air seperti eceng gondok dan Hidrilla Verticilata. Untuk mencegah
    masuknya air hujan terlalu banyak, pada bagian atas bak ditutup sebagian
    dengan seng plastik.
    6) Penjerangan dilakukan setelah benih berada di bak selama sebulan dengan
    jumlah menjadi 200 ekor
    7) Makanan yang diberikan berupa cacng rambut.
    8) Setelah ikan berumur 5 ~ 6 bulan, ikan sudah dapat diseleksi untuk dijadikan
    induk, makanan yang diberikan diganti dengan udang kali yang masih
    segar/hidup, bisa juga diberi udang rebon yang masih segar.
    9) Sepasang induk dapat menghasilkan telur 1000 s/d 4000 butir untuk sekali
    pemijahan.
    5. PENUTUP
    Untuk mendapatkan warna yang indah pada ikan Oscar, pemberian makanan
    harus mengandung zat kapur (chitine) dimulai sejak kecil, seperti kutu air
    (Moina), Rotifera, cacing rambut, Artemia, udang rebon atau udang kali.
    Ikan Oscar mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi; untuk ikan yang
    berumur 4 bulan (berukuran kurang lebih 6 cm) harganya Rp. 500,00 per ekor,
    sedangkan induk Oscar bisa mencapai harga Rp. 50.000,00 per pasang.
    Dengan menekuni cara pemeliharaan ikan Oscar ini, dapat menambah
    penghasil keluarga.
    6. SUMBER
    Dinas Perikanan DKI Jakarta, 1996
    7. KONTAK HUBUNGAN
    Dinas Perikanan DKI Jakarta
    Jakarta, Maret 2001
    Disadur oleh : Tarwiyah

    0

    BUDIDAYA TERNAK JANGKRIK


    BUDIDAYA TERNAK JANGKRIK
    ( Gryllus mitratus Burm )
    1. SEJARAH SINGKAT
    Dewasa ini pada masa krisis ekonomi di Indonesia, budidaya jangkrik
    (Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar
    yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu
    yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya
    memerlukan waktu ± 2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk
    pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2-
    3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup ± 3 bulan, sedangkan jantan
    kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu
    memproduksi lebih dari 500 butir telur.
    Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar
    yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung
    untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan
    berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk
    membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha
    ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.
    2. SENTRA PERIKANAN
    Telah diutarakan didepan bahwa untuk sementara ini, sentra peternakan
    jangkrik adalah dikota-kota besar dipulau jawa karena kebutuhan dari jangkrik
    sangat banyak. Sedangkan diluar pulau jawa sementara ini masih banyak
    didapatkan dari alam, sehingga belum banyak peternakan-peternakan jangkrik.
    3. JENIS
    Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak
    dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus,
    untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk
    tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu
    Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta
    penampilannya yang tenang.
    4. MANFAAT
    Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti
    poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk
    pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.
    5. PERSYARATAN LOKASI
    1) Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang
    baik.
    2) Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain
    sebagainya.
    3) Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.
    6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
    Menurut Farry, 1999, ternak jangkrik merupakan jenis usaha yang jika tidak
    direncanakan dengan matang, akan sangat merugikan usaha. Ada beberapa
    tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan usaha ternak jangkrik, yaitu
    penyusunan jadwal kegiatan, menentukan struktur organisasi, menentukan
    spesifikasi pekerjaan, menetapkan fasilitas fisik, merencanakan metoda
    pendekatan pasar, menyiapkan anggaran, mencari sumber dana dan
    melaksanakan usaha ternak jangkrik.
    6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang
    jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang
    teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi
    untuk kandang peneluran.
    Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding
    kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti
    daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat
    persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari
    jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling
    agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang.
    Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk
    memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan
    kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang
    baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik
    tiap kandang. Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman
    peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan
    ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm.
    Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk
    mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang
    biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal
    empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut,
    tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi
    mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang
    dilumurkan ditiap kaki penyangga.
    6.2. Pembibitan
    1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
    Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak
    cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk
    jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam
    bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun
    induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat
    dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas,
    karena lebih agresif.
    Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai
    berikut:
    a. Indukan:
    - sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
    - kedua kaki belakangnya masih lengkap.
    - bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
    - badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
    - pilihlah induk yang besar.
    - dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan
    duburnya apabila dipegang.
    b. Induk jantan:
    - selalu mengeluarkan suara mengerik.
    - permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
    - tidak mempunyai ovipositor di ekor.
    - Induk betina:
    - tidak mengerik.
    - permukaan punggung atau sayap halus.
    - ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.
    2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
    Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur
    10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena
    pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka
    anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain
    itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu,
    semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari
    jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa
    diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan
    bergantian setiap hari.
    3) Sistem Pemuliabiakan
    Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan
    mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada
    yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara
    caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh
    tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.
    4) Reproduksi dan Perkawinan
    Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila
    diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuanramuan
    yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul
    jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang
    ditambah dengan vitamin.
    Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas,
    dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi
    daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan
    kayu.
    Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam
    kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring
    kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang
    daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari,
    maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian
    kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik
    (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran
    secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata
    matangnya (daya tetas).
    5) Proses kelahiran
    Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang
    permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang
    lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana
    satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur.
    Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening
    sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot
    telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur.
    Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.
    6.3. Pemeliharaan
    1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik
    ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari
    adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka
    sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang
    dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah
    gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing
    dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.
    2) Pengontrolan Penyakit
    Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari
    yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang
    berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap
    lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat
    menyebabkan timbulnya penyakit.
    3) Perawatan Ternak
    Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama
    dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah
    pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).
    4) Pemberian Pakan
    Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat
    darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah
    vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung
    muda dan gambas.
    Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain :
    sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun
    karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan
    untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan
    hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan
    dicampur menjadi satu.
    5) Pemeliharaan Kandang
    Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali
    dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya
    jangan sampai masuk kedalam kandang.
    7. HAMA DAN PENYAKIT
    7.1.Penyakit, Hama dan Penyebabnya
    Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik.
    Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan
    hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil,
    tikus, cicak, katak dan ular.
    7.2. Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit
    Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat
    berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik
    dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak
    tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.
    7.3. Pemberian Vaksinasi dan Obat
    Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka
    penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan
    vaksinasi tidak diperlukan.
    8. PANEN
    8.1. Hasil Utama
    Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai
    ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya
    dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.
    8.2. Penangkapan
    Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah,
    disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan
    kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual
    belikan.
    Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana
    tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan
    dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual.
    9. PASCAPANEN
    10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
    10.1.Analisis Usaha Budidaya
    Perkiraan analisis budidaya telur jangkrik sebanyak 10 kotak untuk 1 periode
    pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
    1) Biaya Produksi
    a. Biaya Tidak Tetap
    - Indukan
    - Induk Jantan 1.000 ekor @ Rp.700,- Rp . 700.000,-
    - Induk Betina 5.000 ekor @ Rp. 500,- Rp. 2.500.000,-
    - Makanan dan Vitamin
    - Sayuran Rp. 100.000,-
    - Konsentrat 10 kg @ Rp.5.000,- Rp. 50.000,-
    - Vitamin 10 btl @ Rp. 5.000,- Rp. 50.000,-
    - Tenaga Kerja 60 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 600.000,-
    b. Biaya Tetap
    - Bunga modal Investasi 20 %/ th Rp. 118.916,67
    - Bunga biaya tidak tetap 20 %/ th Rp. 133.333,33
    - Penyusutan kotak Rp. 38.583,33
    - Penyusutan alat Rp. 7.875,-
    - Pemeliharaan kotak + alat 5 %/ th Rp. 2.322,92
    - Sewa Lokasi Rp. 250.000,-
    - Listrik Rp. 50.000,-
    Jumlah biaya produksi Rp. 4.601.031,25,-
    2) Pendapatan 830 sdm @ Rp. 10.000,- Rp. 8.300.000,-
    3) Keuntungan Rp. 3.698.968,75
    4) Parameter kelayakan usaha
    - B/C ratio = 1,8
    Berikut ini adalah analisis usaha pembesaran jangkrik sebanyak 100 kotak
    untuk 1 periode pada tahun 1999.
    1) Biaya Produksi
    a. Biaya Tidak Tetap
    - Telur 100 sdk @ Rp.10.000,- Rp. 1.000.000,-
    - Makanan dan Vitamin
    - Sayuran Rp. 300.000,-
    - Konsentrat50 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
    - Vitamin50 btl @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
    - Tenaga Kerja300 HOK @ Rp.10.000,- Rp. 3.000.000,-
    b. Biaya Tetap
    - Bunga modal Investasi 20 %/ th Rp. 360.800,-
    - Bunga biaya tidak tetap 20 %/ th Rp. 240.000,-
    - Penyusutan kotak Rp. 455.625,-
    - Penyusutan alat + bahan Rp. 71.375,-
    - Pemeliharaan kotak 5 %/ th Rp. 52.700,-
    - Sewa Lokasi Rp. 375.000,-
    - Listrik Rp. 50.000,-
    Jumlah biaya produksi Rp. 6.404.700,-
    2) Penghasilan 830 sdm @ Rp. 10.000,- Rp.12.000.000,-
    3) Keuntungan Rp. 5.595.300,-
    4) Parameter kelayakan usaha
    - B/C ratio = 1,87
    10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
    Penggunaan pestisida yang selama ini didapati pada lahan-lahan pertanian
    merupakan salah satu penyebab berkurangnya populasi jangkrik, demikian juga
    penangkapan jangkrik dialam yang dilakukan selama ini membuat penurunan
    drastis jumlah populasinya.
    Dengan alasan-alasan tersebut dan naiknya permintaan jangkrik, maka
    peternak tidak membiarkan begitu saja kesempatan untuk memperoleh
    keuntungan dengan membudidayakan jangkrik dengan intensif karena dengan
    waktu yang relatif singkat untuk memelihara jangkrik sudah mendapat
    keuntungan yang berlipat ganda.
    Dengan semakin banyaknya peternak-peternak jangkrik ini, permintaan untuk
    telur jangkrik semakin besar juga, jadi banyak peternak yang hanya
    memproduksi telur jangkrik karena resikonya lebih kecil dan lebih cepat lagi
    mendapatkan laba untuk sekitar 25-30 hari, dibandingkan proses pembesaran
    sampai dengan 3 bulan.
    11. DAFTAR PUSTAKA
    1) Anonim, Bisnis Telur Jangkrik, Info Peluang No. 33, Edisi 1 Juli 1999
    2) ----------, Beternak Jangkrik Ala Samin, Info Agribisnis Trubus No.354, Edisi
    Mei 1999
    3) ----------, Jangkrik Peliha Untuk Tangkar, Info Agribisnis Trubus No. 355, Edisi
    Juni - 1999.
    4) ----------, Langkah Demi Langkah Beternak Jangkrik Produktif, Info Agribisnis
    Trubus-No. 356, Edisi Juli 1999.
    5) Adihendro, Rahasia Beternak Jangkrik, Ardy Agency, Jakarta, 1999.
    6) Arnett, Russ H., Jr. and Richard L. Jacques., Jr, Guide To Insects ( New York
    : Simon - and Schuster Inc., 1981)
    7) Borror, Donald J., Charles A. Triplehorn, Norman F. Johnson, Pengenalan
    Pelajaran -
    8) Serangga, Edisi 6, terjemahan Soetiyono Partosoedjono ( Yagyakarta;
    Universitas-Gajah Mada Press, 1992 ).
    9) Paimin B. Farry dan Pudjastuti L.E, Sukses Beternak Jangkrik, Penebar
    Swadaya, Jakarta, 1999.
    12. KONTAK HUBUNGAN
    1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
    Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
    2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan
    dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,
    Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,
    Situs Web: http://www.ristek.go.id
    Jakarta, Maret 2000
    Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
    Editor : Kemal Prihatman

    Bisnis Usaha Ternak Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates