TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInRSS FeedEmail

Jumat, 27 Juli 2012

0

Sewa Kandang atau Bangun Kandang?


Sewa Kandang atau Bangun Kandang?

 Sewa Kandang atau Bangun Kandang?
Tidak diragukan lagi bahwa modal untuk membangun/membuat unit kandang adalah tidak sedikit. Apalah kandang yang dibangun itu kandang untuk ternak ayam petelur, ayam pedaging, itik petelur, itik pedaging, puyuh, sapi pedaging, sapi perah dan lain sebagainya. Memang, kandang memegang peranan penting dalam menunjang produktifitas ternak yang bersangkutan. Akan tetapi kita tidak boleh berlebihan dalam mengeluarkan modal untuk keperluan kandang. Mungkin kita pernah mendengar ada calon peternak yang kehabisan modal ditengah jalan akibat membangun kandang yang berlebihan, sedangkan untuk keperluan lainnya seperti bibit, pakan dan sarana lainnya belum terbeli. Ada juga cerita, sudah membangun kandang permanen untuk ternak sapi, ternyata di tengah jalan bisnis ini lesu sehingga kandang menjadi nganggur karena mau dipakai untuk ternak lainnya juga tidak cocok. Tentu hal ini sangat tidak kita harapkan. Anda juga jangan takabur alias sombong meskipun anda berkantong tebal, bisa jadi salah satu faktor tidak berkembangnya usaha kita dikarenakan faktor kandang ini juga.
Mengapa faktor kandang bisa menyebabkan usaha kita tidak atau kurang berkembang? Karena modal yang kita punya hanya terfokus bahkan habis di pembuatan kandang sedangkan modal atau alokasi modal untuk pengembangan sumber daya manusia, diversifikasi usaha atau melengkapi sarana dan prasarana lainnya tidak jalan. Di samping itu juga kandang juga akan mengalami penyusutan sehingga nilainya akan semakin turun. Untuk itulah kami akan sedikit memberi gambaran kepada kita semua antara sisi positif menyewa kandang dengan membangun kandang sendiri. Semoga yang sedikit kami tulis nantinya memberi manfaat kepada kita semua. aamiin
Sewa kandang
Menyewa kandang adalah pilihan bijak bagi pemula, apalagi skala usaha masih tergolong kecil. Sewa kandang biasanya umum diterapkan pada usaha peternakan ayam pedaging (broiler). Sewa kandang ada yang model per periode pemeliharaan, ada yang per tengah tahun (6 bulanan) dan ada juga yang tahunan. Keuntungan kalau kita menyewa kandang adalah kita tidak perlu memikirkan investasi bangunan kandang serta sarana dan prasarananya karena biasanya pihak yang menyewakan kandang sudah membuat system sewa satu paket yaitu bangunan kandang (gudang, tempat istirahat pekerja kandang), tempat pakan, tempat minum, sumber air, dan lain sebagainya.  Keuntungan lain dalam menyewa kandang adalah kalau misalkan sampai terjadi bencana alam (banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin topan dan lain sebagainya) kita tidak menanggung kerugian bangunan kandang yang rusak. Jadi bisa di bilang sewa kandang adalah sangat praktis, tinggal bayar sejumlah harga sewa sesuai kesepakatan sudah tinggal menempati dan resiko kecil.
Mungkin ada yang bertanya, apa ada kandang disewakan? Kayak seperti kos-kosan mahasiswa atau kontrakan pada umumnya saja. Memang sewa kandang tidak familiar seperti sewa rumah, sewa kendaraan atau sewa barang lainnya. Sewa-menyewa kandang adalah salah satu peluang usaha yang jarang mendapat perhatian orang. Padahal kalau kita lirik tidak mustahil akan menjadi bisnis yang luar biasa. Apalagi kalau kita mempunyai tanah ‘nganggur’ yang bisa dibilang tanah tidak produktif, akan tetapi disekitar kita prospek usaha ternak cukup menjanjikan. Biaya sewa kandang selama satu kali periode (2 bulan) untuk ayam broiler sekitar Rp 300-350/ekor. Jadi kalau kita mempunyai kandang berkapasitas 20.000 ekor maka biaya sewa untuk sekali periode berkisar sekitar 6-7 juta. Kalau dalam satu tahun ada 6 kali sewa berarti pendapatan siempunya kandang sudah sekitar 36-42 juta.
Bangun kandang
Keputusan untuk membangun unit kandang bisa dikatakan tepat apabila usaha yang kita jalankan sudah besar dan mapan. Membangun kandang bisa bilang kita menanam investasi untuk jangka panjang ke depan. Kalau kita membangun kandang upayakan bangunan kandang tidak harus permanen, artinya kalau sekiranya bangunan kandang itu dibongkar maka bahan-bahan yang dipakai untuk kandang masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Kami jadi teringat akan penjelasan salah satu dosen kami ketika menjelaskan pembuatan kandang sapi, bahwa alas kandang tidak perlu di cor, pakai saja paving bongkar pasang, sehingga nanti ketika usaha sudah selesai/bangkrut maka paving-paving tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lain atau bahkan dijual kembali. Dan tentu masih banyak contoh bahan kandang lain yang semisal. Program kita untuk membangun kandang sendiri tidak semua nya salah, yang terpenting adalah kita punya perhitungan yang terencana.
Sehingga menurut hemat kami, kesimpulan mengenai keputusan menyewa kandang atau membangun sendiri unit kandang adalah sebagai berikut : untuk memulai usaha sebaiknya adalah dengan menyewa kandang  terlebih dahulu sambil melihat-lihat perkembangan usaha. Kemudian kalau kita sudah yakin bahwa usaha yang sedang kita jalankan ini bisa untuk dikembangkan dan memiliki prospek yang cerah ke depannya maka dilakukan pembuatan kandang sendiri untuk investasi jangka panjang. Semoga bermanfaat.*(SPt)
Anda dapat mencopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com
0

beternak ayam kampung pedaging.

ayam-kampuang
Di waktu yang singkat ini perkenankan kami untuk ikut melengkapi artikel atau pengetahuan tentang cara beternak ayam kampung pedaging. Banyak sudah artikel dan makalah yang ditulis oleh pakar dan ahli dibidangnya dalam masalah ini akan tetapi mengingat animo masyarakat untuk mengetahui cara beternak yang baik dan praktis maka kami juga meluangkan waktu untuk dapat menuliskannya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.. ^_^
Mengubah sistem beternak ayam kampung dari sistem ekstensif ke sistem semi intensif atau intensif memang tidak mudah, apalagi cara beternak sistem tradisional (ekstensif) sudah mendarah daging di masyarakat kita. Akan tetapi kalau dilihat nilai kemanfaatan dan hasil yang dicapai tentu akan menjadi faktor pendorong tersendiri untuk mencoba beternak dengan sistem intensif. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam usaha beternak ayam kampung, maka perlu kiranya memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Bibit
Bibit mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha peternakan. Bibit ayam kampung (DOC) dapat diperoleh dengan cara : membeli DOC ayam kampung langsung dari pembibit, membeli telur tetas dan menetaskannya sendiri, atau membeli indukan untuk menghasilkan telur tetas kemudian ditetaskan sendiri baik secara alami atau dengan bantuan mesin penetas. Kami tidak akan menguraikan sisi negatif dan positif cara mendapatkan DOC ayam kampung karena akan memerlukan halaman yang panjang nantinya. Secara singkat DOC ayam kampung yang sehat dan baik mempunyai kriteria sebagai berikut : dapat berdiri tegap, sehat dan tidak cacat, mata bersinar, pusar terserap sempurna, bulu bersih dan mengkilap, tanggal menetas tidak lebih lambat atau cepat.
2. Pakan
Kita ketahui bersama bahwa pakan mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha. Pakan untuk ayam kampung pedaging sebenarnya sangat fleksibel dan tidak serumit kalau kita beternak ayam pedaging, petelur atau puyuh sekalipun. Bahan pakan yang bisa diberikan antara lain : konsentrat, dedak, jagung, pakan alternatif seperti sisa dapur/warung, roti BS, mie instant remuk, bihun BS, dan lain sebagainya. Yang terpenting dalam menyusun atau memberikan ransum adalah kita tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ayam kampung yaitu protein kasar (PK) sebesar 12% dan energi metabolis (EM) sebesar 2500 Kkal/kg.
Jumlah pakan yang diberikan sesuai tingkatan umur adalah sebagai berikut :
  • 7 gram/per hari sampai umur 1 minggu
  • 19 gram/per hari sampai umur 2 minggu
  • 34 gram/per hari sampai umur 3 minggu
  • 47 gram/per hari sampai umur 4 minggu
  • 58 gram/per hari sampai umur 5 minggu
  • 66 gram/per hari sampai umur 6 minggu
  • 72 gram/per hari sampai umur 7 minggu
  • 74 gram/per hari sampai umur 8 minggu
Sedangkan air diberikan secara ad libitum (tak terbatas) dan pada tahap-tahap awal pemeliharaan perlu dicampur dengan vitamin+antibiotika.
3. Perkandangan
Syarat kandang yang baik : jarak kandang dengan permukiman minimal 5 m, tidak lembab, sinar matahari pagi dapat masuk dan sirkulasi udara cukup baik. Sebaiknya memilih lokasi yang agak rindang dan terhalangi oleh bangunan atau tembok lain agar angin tidak berhembus langsung ke dalam kandang.
Penyucihamaan kandang dan peralatannya dilakukan secara teratur sebagai usaha biosecurity dengan menggunakan desinfektan yang tepat dan tidak membahayakan bagi ternak itu sendiri. Banyak pilihan jenis desinfektan yang ditawarkan oleh berbagai produsen pembuatan obat.
Ukuran kandang : tidak ada ukuran standar kandang yang ideal, akan tetapi ada anjuran sebaiknya lebar kandang antara 4-8 m dan panjang kandang tidak lebih dari 70 m. Yang perlu mendapat perhatian adalah daya tampung atau kapasitas kandang. Tiap meter persegi sebaiknya diisi antara 45-55 ekor DOC ayam kampung sampai umur 2 minggu, kemudian jumlahnya dikurangi sesuai dengan bertambahnya umur ayam.
Bentuk kandang yang dianjurkan adalah bentuk postal dengan lantai yang dilapisi litter yang terdiri dari campuran sekam, serbuk gergaji dan kapur setebal ± 15 cm. Model atap monitor yang terdiri dari dua sisi dengan bagian puncaknya ada lubang sebagai ventilasi dan bahan atap menggunakan genteng atau asbes.
Pemeliharaan ayam kampung di bagi dalam dua fase yaitu fase starter (umur 1-4 minggu) dan fase finisher (umur 5-8 minggu). Pada fase starter biasanya digunakan kandang bok (dengan pemanas) bisa bok khusus atau juga kandang postal yang diberi pagar. Suhu dalam kandang bok biasanya berkisar antara 30-32°C. Pada fase finisher digunakan kandang ren atau postal seperti model pemeliharaan ayam broiler.
4. Manajemen Pemeliharaan
Manajemen atau tatalaksana pemeliharaan memegang peranan tertinggi dalam keberhasilan suatu usaha peternakan yaitu sekitar 40%. Bibit berkualitas serta pakan yang berkualitas belum tentu memberikan jaminan keberhasilan suatu usaha apabila manajemen pemeliharaan yang diterapkan tidak tepat. Sistem pemeliharaan pada ayam kampung bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu :
  • Ekstensif /tradisional (diumbar), tanpa ada kontrol pakan dan kesehatan
  • Semi intensif (disediakan kandang dengan halaman berpagar), ada kontrol pakan dan kesehatan ternak akan tetapi tidak ketat
  • Intensif (dikandangkan seperti ayam ras), ada kontrol pakan dan kesehatan dengan ketat
Model pemeliharaan ayam kampung secara intensif lebih disarankan dari yang lainnya terutama dalam hal kontrol penyakit. Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dari cara beternak secara intensif, akan tetapi kami tidak dapat menguraikannya di sini.
5. Pengendalian Penyakit
Hal yang tak kalah pentingnya adalah pengendalian penyakit. Kita semua akan setuju dengan statement “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan tindakan antara lain :
  1. Menjaga sanitasi lingkungan kandang, peralatan kandang dan manusianya
  2. Pemberian pakan yang fresh dan sesuai kebutuhan ternak
  3. Melakukan vaksinasi secara teratur
  4. Pemilihan lokasi peternakan di daerah yang bebas penyakit
  5. Manajemen pemeliharaan yang baik
  6. Kontrol terhadap binatang lain
Berikut kami uraikan sedikit beberapa jenis penyakit yang kerap menyerang ayam kampung :
  • Tetelo (ND)
Penyebab : paramyxivirus
Gejala : ngorok dan batuk-batuk, gemetaran, kepala berputar-putar, kelumpuhan pada kaki dan sayap, kotoran berwarna putih kehijauan.
Pencegahan : vaksinasi secara teratur, sanitasi kandang, terhadap ayam yang terkena ND maka harus dibakar.
Pengobatan : belum ada
  • Gumboro (gumboro disease)
Penyebab : virus
Gejala : ayam tiba-tiba sakit dan gemetar serta bulu-bulunya berdiri, sangat lesu, lemah dan malas bergerak, diare putih di sekitar anus.
Pencegahan : vaksinasi teratur dan menjaga sanitasi kandang
Pengobatan : belum ada
  • Penyakit cacing ayam (worm disease)
Penyebab : Cacing
Gejala : pertumbuhan terhambat, kurang aktif, bulu kelihatan kusam.
Pencegahan : pemberian obat cacing secara berkala, sanitasi kandang yang baik, penggantian litter kandang secara berkala, dan mencegah serangga yang dapat menjadi induk semang perantara.
Pengobatan : pemberian obat cacing seperti pipedon-x liquid, sulfaquinoxalin, sulfamezatin, sulfamerazin, piperazin dan lain sebagainya
  • Berak kapur (Pullorum)
Penyebab : Bakteri Salmonella pullorum
Gejala : anak ayam bergerombol di bawah pemanas, kepala menunduk, kotoran melekat pada bulu-bulu disekitar anus
Pencegahan : mengusahakan induk terbebas dari penyakit ini, fumigasi yang tepat pada mesin penetas dan kandang
Pengobatan : noxal, quinoxalin 4, coxalin, neo terramycyn  atau lainnya
  • Berak darah (Coccidiosis)
Penyebab : protozoa Eimeria sp.
Gejala : anak ayam terlihat sangat lesu, sayap terkulai, kotoran encer yang warnanya coklat campur darah, bulu-bulu disekitar anus kotor, ayam bergerombol di tepi atau sudut kandang.
Pencegahan : mengusahakan sanitasi yang baik dan sirkulasi udara yang baik pula atau bisa juga dengan pemberian coccidiostat pada makanan sesuai takaran
Pengobatan : noxal, sulfaquinoksalin, diklazuril atau lainnya
6. Pasca Panen dan Pemasaran
Pemasaran ayam kampung pada dasarnya mudah karena disamping jumlah permintaan yang tinggi, harga ayam kampung masih tergolong tinggi dan stabil, sedang produksi masih terbatas. Ayam kampung dapat dijual dalam bentuk hidup atau sudah dipotong (karkas). Rumah tangga, pengepul ayam, pasar tradisional, warung, supermarket sampai hotel berbintang membutuhkan pasokan ayam kampung ini. Harga ayam kampung hidup berkisar antara Rp 40.000 – Rp 50.000/ekor.
7. Pengelolaan Produksi
Sebagai seorang peternak yang profesional maka perlu untuk menjaga agar produksi yang kita lakukan dapat memenuhi standar kualitas dan kontinuitas produk. Maka diperlukan pengelolaan atau pengaturan produksi agar usaha kita dapat berproduksi secara kontinyu. Untuk kekontinuitasan usaha perlu pengaturan dan penjadwalan secara teratur kapan DOC masuk dan kapan ayam di panen, karena hal itu lebih disukai oleh pengepul atau mitra kerja kita daripada hanya sekali panen dalam jumlah banyak. Tapi perlu diingat juga bahwa pengelolaan produksi sangat terkait dengan modal, ketersediaan kandang, jumlah ketersediaan DOC, dan jumlah permintaan ayam siap panen.
Mudah-mudahan uraian di atas dapat menambah pengetahuan kita dalam hal beternak dan menjadikan cara beternak kita lebih baik. Saran dan kritik selalu kami nantikan untuk kemajuan kita bersama. Semoga kesuksesan selalu menyertai kita bersama. Aamiin… :)
0

Direktorat Perbibitan Ternak

Direktorat Perbibitan Ternak


Direktur Perbibitan Ternak
Ir. Abubakar, SE., MM

Alamat
Jl. Harsono RM No 3 Gedung C Lt.9 Ragunan, Jakarta Selatan
Telp. (021) 788 5117 Fax. (021) 781 5782

 
  • Visi
    Tersedianya benih dan bibit ternak berkualitas dalam jumlah yang cukup mudah diperoleh dan dijangkau serta terjamin kontinuitasnya
  • Misi
    1. Memfasilitasi tersedianya benih dan bibit ternak
    2. Mendorong usaha pembibitan ternak rakyat, pemerintah dan swasta
    3. Membina kelembagaan perbibitan
    4. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dibidang perbibitan
    5. Memanfaatkan sumberdaya genetik ternak secara optimal
  • Tujuan
    1. Meningkatkan produksi dan produktivitas benih dan bibit ternak serta pemanfaatan sumberdaya genetik ternak secara berkelanjutan
    2. Menyusun kebijakan dan strategi perbibitan ternak secara nasional
    3. Meningkatkan fungsi kelembagaan perbibitan rakyat, swasta dan pemerintah
    4. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia perbibitan
    5. Mewujudkan iklim usaha pembibitan yang kondusif
    6. Menyusun perencanaan dan pelaporan kegiatan perbibitan
  • Sasaran
    1. Penyediaan benih dan bibit ternak dalam jumlah yang cukup dan berkualitas secara berkelanjutan
    2. Penerbitan peraturan di bidang perbibitan untuk peningkatan pelayanan
    3. Optimalisasi fungsi kelembagaan perbibitan
    4. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia perbibitan (peternak, petugas, kelembagaan perbibitan)
    5. Fasilitasi usaha-usaha pembibitan ternak
    6. Penyusunan perencanaan dan pelaporan kegiatan perbibitan
  • Strategi
    1. Pembinaan perbibitan ternak unggulan nasional maupun daerah
    2. Memfasilitasi usaha pembibitan yang dilakukan UPT/UPTD, rakyat maupun swasta
    3. Mendorong usaha-usaha pembibitan ternak di pedesaan
    4. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia perbibitan melalui pelatihan, magang, studi banding, dan lain-lain
    5. Mendorong kemitraan usaha pembibitan ternak antara UPT/UPTD, peternak dengan pengusaha
    6. Mendorong pemanfaatan plasma nutfah secara berkesinambungan
  • Kebijakan
    1. Pengelolaan dan peningkatan mutu dan jumlah benih dan bibit ternak
    2. Penyusunan, penyempurnaan, sosialisasi ”Sistem Perbibitan Ternak Nasional” dan peraturan perbibitan
    3. Penguatan koordinasi dan kelembagaan perbibitan
    4. Penguatan SDM perbibitan
    5. Promosi dan membangun citra (brand image) bibit ternak
    6. Koordinasi perencanaan dan pelaporan
  • Program
    1. Peningkatan ketersediaan benih dan bibit ternak serta pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan plasma nutfah
    2. Peningkatan minat usaha pembibitan ternak dan membangun citra (brand image) bibit ternak
    3. Peningkatan koordinasi dan kelembagaan perbibitan
    4. Peningkatan dan pemberdayaan SDM perbibitan
    5. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan dibidang perbibitan
  • Tupoksi
    Direktorat Perbibitan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perbibitan. Dalam melaksanakan Direktorat Perbibitan menyelenggarakan fungsi :
    1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    2. Pelaksanaan kebijakan di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    3. Penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    4. Pemberian bimbingan teknis dan evalusi di bidang ternak bibit ruminansia, ternak bibit non ruminansia, pemuliaan ternak, dan mutu bibit
    5. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
    6. Penyusunan perencanaan dan pelaporan
  • 0

    Bisnis Menggiurkan Penetasan Telur Itik

    Bisnis Menggiurkan Penetasan Telur Itik


    Tak sedikit masyarakat Kroya – Karanganyar Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon, kini menyandarkan pendapatan utamanya pada bisnis penetasan telur itik skala rumah tangga. Dengan mengandalkan pasokan telur itik Rambon (Ras Masyarakat Cirebon) dari peternak sekitar, produksi DOD (Day Old Duck) atau anak itik hasil tetasan kawasan ini mampu mencapai 9,5 juta ekor per tahun.
    Cakupan distribusi DOD made in Kroya ini tidak sekadar Cirebon dan Jawa Barat, tetapi juga Banten, Jawa Tengah, sertaJawa Timur bahkan sudah merambah Sumatera dan Kalimantan. Padahal semula, usaha ini dipandang sebelah mata dan hanya merupakan kegiatan sampingan.
    Jabidi, adalah salah satu penduduk Kroya yang menggeluti usaha penetasan telur itik. Ia yang memulai usahanya14 tahunlaludengan10 mesin tetas berkapasitas 600 telur per unit, kini memiliki 30 unit mesin tetas dengan kapasitas 1.000 butir telur per unit. “Usaha di penetasan telur itik ini sangat aman dan tidak terpengaruh krisis ekonomi. Hanya sedikit terganggu pada saat awal merebaknya flu burung,” ungkap Jabidi kepada TROBOS beberapa waktu lalu.
    Selain sebagai penetas, Jabidi juga bermain sebagai pengepul telur tetas yang memasokpenetas lainnya. Ia mengakumendapatkan telur dari peternak itik minimal 2.000 – 3.000 butir per 3 hari. Jika sedang banyak, telur yang dapat dikumpulkan bisa mencapai 7.000 – 10.000 butir. “Saya baru mampu memenuhi 5 % dari kebutuhan telur tetas yang ada. Terlalu banyak telur yang dikumpulkan pun tidak efektif karena telur fertil itu optimal disimpan sebelum ditetaskan sekitar 2 hari. Apalagi masih ada pengumpul telur tetas lainnya,” tuturnya.
     
    Ditetaskan Bertahap
    Dalam menetaskan telur itik, Jabidi tidak mengisi semua mesin tetas tetapi dilakukan secara bertahap. Sekali produksi, rata–rata ditetaskan 1.000 – 4.000 telur. Sedangkan mesin tetas yang tidak digunakan diistirahatkan dan disterilkan sekitar 3-7 hari dengan menggunakan desinfektan atau sabun untuk mematikan mikroorganisme.
    Telur yang dikumpulkan dari kandang diseleksi,dipisahkan antara yang bersih dengan yang kotor.“Telur yang kotor kurang bagus kalau ditetaskan,” ungkap Jabidi. Ditambahkannya, telur yang kotor kemudian diolah untuk telur asin.
    Jabidi melanjutkan, telur bersih kemudian masuk mesin tetas. Keesokan harinya dilakukan candling (peneropongan) telur menggunakan lampu untuk mengetahui fertilitas telur. Pada telur yang fertil terdapat tunas. Candling kembali dilakukan pada hari ke-5 untuk menyeleksi lagi telur yang fertil dan tidak. Pada telur fertil terlihat urat darah seperti laba - laba.
    Sedangkan telur yang mati ada lingkaran dan urat darahnya putus– utus, hilang atau bahkan kosong.“Candling terakhir dilakukan pada hari ke-15. Telur yang hidup akan tampak berwarna gelap/hitam dan yang mati berwarna terang,” jelasnya.
    Bernilai Tambah
    Pria yang belajar penetasan telur itik secara otodidak ini mengungkapkan, banyak nilai tambah dalam usaha penetasan telur itik ini. Telur yang baru dibeli dari kandang dan didiamkan semalam di mesin tetas lalu ketika di-candling dan terdapat tunas nilai jualnya akan meningkat. Dari harga beli telur yang Rp 1.420 per butir, ia bisa menjual telur bertunas Rp 1.750. Sedangkan untuk DOD jantan dijual Rp 3.500 dan betina Rp 4.500. “DOD yang dihasilkan dengan umur 1 – 5 hari langsung dijual di tempat,” ujarnya.
    Ia menggambarkan keuntungan dari penetasan telur itik ini minimal setengahnya dari modal. Dari kapasitas mesin tetas 1.000 butir per unit keuntungan minimal sekitar 300 butir per unit. “Kalau sudah dikurangi listrik dan tenaga kerja keuntungan bersih sekitar 200 butir,” katanya.
    (Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=3088)
    0

    Ayam ASUH Membawa Untung

    Ayam ASUH Membawa Untung


    Kegiatan sosialisasi ayam ASUH-nya (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) kembali digelar Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan FAO (Food & Agriculture Organization/badan pangan dan pertanian dunia) di Rumah Potong Ayam (RPA) Rawa Kepiting, Jakarta Timur itu medio Maret 2012. Salahsatu narasumber yang dihadirkan yaitu Yati mewakili pedagana ayam ASUH.

    Dihadapan 50 pemotong dan pedagang ayam di Pasar Keramat Jati dan Pulo Gadung, Yati mengatakan, bahwa produk ayam ASUH yang dijualnya tidak cepat biru dan kalau dimasak tidak ciut. ”Bisa demikian karena setelah ayam dipotong, dicabut bulu, trus langsung direndam dalam air dingin bersuhu sekitar 4o C selama 2 jam. Pori-porinya trus tertutup dan kualitasnya pun terjaga. Dijualnya juga pake styrofoam yang diisi es batu,” terangnya.

    Saat ini Yati mampu menjual hingga 3.000 ekor per hari kepada pelanggannya di seputaran Jakarta Barat. Ia memulai bisnisnya ini dengan menjual 5 ekor ayam ASUH (bentuk karkas) yang dibeli dari RPA Kartika Eka Dharma pada 2004. Keunggulan ayam ASUH Yati ini menyebar dari mulut ke mulut antar pedagang sayur, sate, dan warteg. Kini menurut Yati, di seputaran Jakarta Barat, konsumen, dan pedagang sudah banyak yang mengerti akan kualitas ayam ASUH.

    Selain Yati, acara ini juga menghadirkan Suparno yang akrab disapa Nojeng—pemotong dan pedagang dari Pulo Gadung. Berbeda dengan Yati, Nojeng membeli ayam dari pangkalan lalu memotongnya secara ASUH di RPA Rawa Kepiting—RPA yang diakui oleh Pemprov DKI Jakarta untuk wilayah Jakarta Timur. Dan Nojeng pun melontarkan pendapat senada dengan Yati bahwa ayam ASUH memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang ayam ’hangat’.

    Sosialisasi Terus Menerus
    Kata Ipih Ruyani yang Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Yati dan Nojeng sengaja dihadirkan untuk membagi pengalaman, sekaligus mengajak para pemotong dan pedagang di Pasar Keramat Jati dan Pulo Gadung untuk berubah. Lanjut Ipih, sosialisasi seperti ini adalah yang ke dua kalinya dan dikhususkan untuk pemotong dan pedagang ayam di bawah 50 ekor.

    Ipih berharap agar para pemotong dan pedagang ayam bisa berubah. Dari yang sebelumnya memotong di rumah, bisa memotong di RPA Rawa Kepiting. Atau tinggal membeli saja bila jumlah penjualan masih sedikit. ”Kami memang harus sabar. Sebab tidak mudah untuk mengubah perilaku. Tapi yang pasti kami sampaikan kepada mereka bahwa kami bukan ingin menghilangkan lapangan kerja mereka. Tapi justru ingin membuat mereka lebih maju dan jangan sampai terlindas oleh ritel ayam ASUH milik perusahaan yang kian banyak dan kian dekat ke konsumen,” terangnya.

    Melihat Langsung
    Tak hanya sosialisasi dalam bentuk ceramah dan berbagi pengalaman, sosialisasi kali ini juga dilengkapi dengan melihat langsung proses pemotongan ayam di RPA Rawa Kepiting yang dipandu oleh Nojeng. Seru Nojeng, ”Program pemerintah ini bukan untuk menyengsarakan kita, tapi untuk memajukan usaha kita.” Buktinya, sambung Nojeng, retribusi per ekor atas penggunaan fasilitas di RPA Rawa Kepiting hanya Rp 75. Ini sudah termasuk penggunaan fasilitas pemotongan, listrik, air, plastik pembungkus, plus kontrol kualitas oleh tim QC (Quality Control). Biaya selain itu, pemotong hanya membeli es balok saja untuk bak perendaman dan boks distribusi.

    Kepada para peserta Nojeng lalu menunjukkan bak perendaman dingin yang telah diisi es. ”Ini lah ’formalin’ saya bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujarnya. Sarannya, daripada menggunakan formalin yang terbukti membahayakan konsumen, lebih baik sisihkan uang untuk beli es balok. ”Di pemotongan ini, untuk 100 ekor ayam, saya hanya perlu 2 es balok saja. Harga es balok di sini juga murah, hanya Rp 15.000 per balok,” tuturnya.

    TROBOS mengamati, sosialisasi yang dikombinasi dengan meninjau langsung fasilitas dan proses pemotongan yang ASUH tampak lebih efektif. Sebab diskusi terasa lebih hidup, aktif dan peserta bisa melihat langsung seperti apa dan bagaimana konsep ASUH itu. Seperti diungkapkan oleh Marlan, penampung ayam di Keramat Jati yang turut serta, sosialisasi seperti ini lebih membuka wawasannya tentang bagaimana ayam yang higienis. Marlan berharap sosialisasi ini terus dilakukan secara rutin agar proses penyadaran lebih cepat.

    (Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=3336)
    0

    Teknologi Pemuliaan dalam Meningkatkan Kapasitas Produksi Itik Lokal

    Teknologi Pemuliaan dalam Meningkatkan Kapasitas Produksi Itik Lokal

    Ada 3 kategori sistem pemeliharaan yaitu (i) sistem ekstensif, dimana ternak itik digembalakan dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari sumber pakan di sawah-sawah yang selesai dipanen, (ii) sistem semi-intensif, dimana ternak itik dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan itik mulai diberi pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, dan (iii) sistem intensif, dimana ternak itik dipelihara terkurung sepanjang periode produksi telur dan kebutuhan pakan disediakan oleh peternak seluruhnya.

    Hal tersebut dikemukakan oleh L. Hardi Prasetyo seorang peneliti di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor dalam acara seminar nasional dan kongres I Indonesia Society of Animal Agriculture (ISAA) di Semarang. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Aspek Zooteknis untuk Mendukung Sumberdaya dan Ternak Lokal” dengan diikuti oleh para akademisi, praktisi dan peneliti di bidang peternakan.

    Hardi Prasetyo mengatakan, bahwa pemeliharaan itik secara intensif menimbulkan konsekuensi meningkatnya biaya produksi. Untuk itu, agar usaha ternak itik tetap menguntungkan dan menarik bagi peternak diperlukan aplikasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, serta penerapan prinsip-prinsip ekonomis usaha. “Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan bibit unggul yang dihasilkan dari penerapan teknologi pemuliaan pada ternak-ternak yang memang potensial, di samping pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara tepat.,” ungkap Hardi Prasetyo.

    Pengembangan bibit unggul
    Hardi mencontohkan, seperti halnya pada berbagai komoditas ternak lain, itik juga sudah mengalami proses pemuliaan di beberapa negara. Bibit unggul itik petelur yang pasar utamanya di negara-negara Asia telah dihasilkan di Taiwan dan Vietnam melalui proses seleksi yang terarah. Itik petelur unggul Brown Tsaiya telah dihasilkan di Taiwan melalui proses seleksi selama 13 generasi dengan peningkatan produksi telur sampai umur 52 minggu dari 207 menjadi 229 butir dan umur pertama bertelur turun dari 126 hari menjadi hanya 108 hari tanpa mengurangi bobot telur. Seleksi terhadap sifat lain juga telah dilakukan di Taiwan untuk memperbaiki kekuatan kerabang telur, warna kerabang telur, fertilitas dan daya tetas telur.

    Sedangkan di Vietnam, seleksi terhadap itik Co, yang diduga berasal dari Indonesia, dapat meningkatkan produksi telur selama 1 tahun sebesar14,5%. Untuk itik pedaging, di Taiwan telah dilakukan seleksi terhadap itik Manila (entog) dan itik Peking yang persilangan diantaranya menghasilkan itik Serati yang berbulu putih sebagai penghasil daging dan bulu halus (down feather). Di Perancis telah dikembangkan beberapa galur komersial dari itik Manila dan itik Peking pada tingkat GPS (Grand Parent Stock) dan PS (Parent Stock) untuk menghasilkan itik Serati sebagai penghasil daging dan hati (liver). Kriteria seleksi yang digunakan adalah terutama sifat-sifat produksi telur, kualitas karkas, dan sifat-sifat reproduksi.

    Lebih jauh Hardi Prasetyo mengatakan, di Indonesia pemanfaatan teknologi pemuliaan juga telah dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul ternak itik, baik petelur maupun pedaging. Peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sendiri telah melakukan seleksi 5 generasi terhadap sekelompok itik Alabio dan itik Mojosari untuk menghasilkan itik hibrida petelur unggul hasil persilangan diantara kedua kelompok terseleksi tersebut. Hibrida tersebut, yang dinamakan Itik Master, mempunyai beberapa keunggulan yaitu (i) Rataan produksi telur setahun mencapai 71,5%, (ii) umur pertama bertelur 18 minggu, (iii) rataan puncak produksi telur mencapai 93,4%, (iv) konversi pakan 3,22, dan (v) anak itik jantan dan betina pada saat menetas dapat dibedakan dengan mudah dari warna bulunya.

    “Hasil uji coba di tingkat peternak menunjukkan bahwa itik hibrida ini lebih unggul dari bibit induknya maupun silang balik kepada salah satu induknya, selama produksi telur 1 tahun,” terang Hardi Prasetyo yang juga aktif sebagai pengurus organisasi Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) ini.

    Untuk itik pedaging, Balitnak telah merintis pengembangan galur bibit unggul baru yang berasal dari kombinasi antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Hasil persilangan tersebut mengalami proses seleksi selama beberapa generasi untuk memperoleh galur baru yang stabil, sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam negeri, dan untuk sementara disebut itik PMp. Adanya bibit unggul pedaging baru ini diharapkan dapat menggantikan bibit itik Peking yang selama ini diimpor, dan juga menyesuaikan dengan selera konsumen lokal yang lebih menghendaki itik potong ukuran sedang.

    Keunggulan bibit itik PMp ini adalah bulunya yang putih sehingga menghasilkan warna dan kualitas karkas yang tinggi, mencapai bobot potong dalam umur 8-10 minggu dengan konversi pakan sebesar 3,8. “Jika konsumen memerlukan ukuran karkas yang lebih besar maka itik PMp ini dapat disilangkan dengan entog jantan untuk menghasilkan itik serati dengan bobot potong mencapai 3 kg dalam 10-12 minggu,” kata Hardi Prasetyo.

    Implikasi dari tersedianya bibit unggul
    Pengembangan bibit unggul sebagai galur komesial mampu meningkatkan produktivitas ternak itik lokal, melalui penerapan teknologi pemuliaan yang tepat sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Peningkatan produksi telur per individu betina induk dari bibit unggul dapat mencapai 10-15% jika dibandingkan dari sebelumnya proses pemuliaan pada pemeliharaan intensif, namun jika dibandingkan dengan induk yang dipelihara secara ekstensif atau semi-intensif peningkatan dapat mencapai 30-40%.

    Hal ini jelas menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi per ekor induk baik dalam menghasilkan telur konsumsi, telur tetas maupun itik potong. Selanjutnya, untuk memperoleh manfaat tersebut perlu ada pengembangan sistem produksi yang benar dengan unit pembibitan yang terarah, dan dengan orientasi komersial dan skala usaha ekonomis.

    “Hal inilah yang sampai saat ini masih sulit diwujudkan karena pada umumnya pemeliharaan ternak itik hanya sebagai kegiatan sambilan atau musiman sebagai pengisi waktu kosong antar pertanaman padi atau tanaman pangan lain.” Ungkap Hardi prasetyo.

    Sumber (http://www.poultryindonesia.com/news/kesehatan/riset-artikel-referensi/pemanfaatan-teknologi-pemuliaan-dalam-meningkatkan-kapasitas-produksi-itik-lokal/)
    0

    Bangga dengan Ayam Gaga�

    Bangga dengan Ayam Gaga�


    Sebagai salah satu ternak ayam lokal yang menjadi aset sumberdaya genetik, ayam Gaga’ telah menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan. Saat ini ayam Gaga’ cukup terkenal dan berkembang di beberapa Kabupaten di Provinsi Sulsel, dengan populasi terbanyak berada di Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rappang). Dalam kultur budaya masyarakat setempat, selain sebagai penghasil daging dan telur, ternak ayam Gaga’ juga mempunyai fungsi sebagai ayam kontes karena memiliki suara yang khas serta nilai jual yang menggiurkan.

    Menurut Amiruddin (2011), ternak ayam Gaga’ di mata masyarakat Bugis khususnya masyarakat Sidrap bukanlah ayam aduan, bukan pula sekedar penghias sangkar, melainkan memiliki nilai budaya, yaitu sebagai sennuangeng dan simbol keperkasaan juga status sosial bagi yang memilikinya. Sennuangeng adalah harapan agar dapat memperoleh keberuntungan dalam pekerjaan atau usaha, disamping itu ayam Gaga’ dianggap sebagai simbol status sosial dan simbol keperkasaan serta simbol kepahlawanan yang dilekatkan kepada orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Dengan demikian ternak ayam Gaga’ dikalangan Etnis Bugis mempunyai nilai budaya yang sangat unik maupun sebagai sennuangeng, simbol keperkasaan, keberanian dan kepahlawanan.

    Ayam Gaga’ dibedakan menjadi beberapa jenis warna ; (a). Bakka : warna dasar putih mengkilat dengan dihiasi warna hitam, oranye, merah dan kaki hitam atau kaki putih, (b). Lappung : warna dasar hitam dengan dihiasi warna merah hati, kaki hitam dan mata putih, (c). Ceppaga : warna dasar hitam dengan dihiasi warna hitam dan putih, ditambah bentuk putih dibadan sampai pangkal lehar dan kaki hitam.

    Kita tahu, ayam Gaga’ ini bagi sebagian kalangan hobies dijadikan sebagai bisnis unik yang menarik, terkadang keberadaan ayam Gaga’ ini dijadikan sebagai penghilang stres karena selain nyentrik suaranya pun bisa menghibur pendengarnya, sehingga tidak heran bila ayam Gaga’ ini dikenal sebagai ayam ketawa. Bagi kalangan tertentu ayam ketawa ini sebagai warisan yang luar biasa berharga, tidak heran pemerintah menjadikan ayam Gaga’ ini sebagai salah satu keanekaragaman Sumber Daya Genetik (SDG) hewan sebagai salah satu aset Negara Indonesia. Hal seperti ini menjadi tanggungjawab pemerintah pusat maupun daerah untuk selalu menjaga dan melestarikan keberadaanya, sehingga dapat menjadi unggulan asli Provinsi Sulawesi Selatan.

    Dalam perkembangannya, ayam Gaga’ menjadi salah satu ternak asli dan lokal yang merupakan plasma nutfah Provinsi Sulawesi Selatan, dan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2920/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penetapan Rumpun Ayam Gaga, telah di tetapkan sebagai salah satu rumpun ayam lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Ayam Gaga’ ini memiliki keseragaman bentuk fisik dan komposisi genetik serta kemampuan adaptasi baik pada keterbatasan lingkungan, dimana memiliki ciri khas yang berbeda dengan rumpun ayam asli atau rumpun ayam lokal lainnya.

    Adapun ayam Gaga’ ini memiliki sifat kualitatif seperti jengger/balung: tunggal, bergerigi, berwarna merah; warna bulu: putih, merah atau hitam; warna ceker: putih, kuning, atau hitam; suara ayam jantan: mirip suara manusia tertawa dengan tempo cepat, (kuk kruk ku kha kha kha), sedang (kuk kruk ku...kha...kha...kha) atau lambat (ku kru ku ....kha .... kha....kha) setiap kokok terdiri dari suara kokok depan, tengah dan penutup. Sifat kuantitatif seperti suara: frekuensi berkokok 2-15 kali dari standar bunyi 2 kali dalam durasi kontes suara; bobot badan dewasa: sama dengan bibit badan dewasa ayam kampung pada umumnya; sifat reproduksi: sama dengan sifat reproduksi ayam kampung pada umumnya; wilayah sebaran: Provinsi Sulawesi Selatan.

    Dalam perjalanannya Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan berbagai hal untuk perkembangan ayam Gaga’ salah satunya yaitu dengan diadakannya kontes, adapun kontes ayam Gaga’ yang pertama yaitu pada tahun 1997 di areal Monumen Bambu Runcing Rappang Kecamatan Pancarijang, kontes kedua di Desa Kanie Kecamatan Maritengnae, Kontes ketiga di Pinrang Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap.

    Selain kontes, juga dilaksanakan kegiatan Mappasipulung merupakan kegiatan yang mirip dengan kontes namun tidak dinilai seperti kontes resmi, karena ayam ditenggerkan pada satu lokasi yang bersamaan, jadi sifatnya hanya untuk promosi serta mempererat persatuan dikalangan peternak, pencinta dan penggemar. Hal lain untuk mengenalkan ayam Gaga’ yaitu dengan dibentuknya perkumpulan atau organisasi penggemar ayam Gaga’ setingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang di kenal dengan Persatuan Penggemar dan Pelestari Manu Macawa (P3MM), harapan kedepannya berusaha untuk memajukan dan mengembangkan agar ayam Gaga’ ini bisa berkembang dan tetap terjaga kelestariannya.

    Ayam Gaga´ salah satu ternak lokal asli Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri, seyogyanya dapat mampu menjadi ikon berharga bagi Provinsi Sulawesi Selatan dan mampukah ayam Gaga’ bertahan dan terus berkembang menjadi rumpun/galur ternak Indonesia yang terjaga kelestariannya?

    (Oleh : Ian Sopian, S.Pt dan Maria Flora Butar-Butar, S.Pt - Direktorat Perbibitan Ternak)

    Bisnis Usaha Ternak Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates